From Wira To Elisha

Di sini. Di depan laut yang luas dan tak berujung, mereka bertemu. Saling menatap tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka nikmati setelah terjadinya pepisahaan yang tak mereka inginkan. Elisha masih secantik yang dulu di mata Wira. Senyumannya yang lepas tetap menjadi daya tarik gadis tersebut dan menjadi salah satu hal yang membuat Wira tertarik hingga detik ini. Mungkin yang berbeda hanya rambutnya yang dulu pendek sebahu, lalu sekarang tergantikan menjadi tergerai panjang di punggungnya. Wira pun masih setampan yang dulu di mata Elisha. Mata elangnya yang tajam namun penuh dengan kasih sayang menjadi alasan bagi Elisha untuk tetap berlama-lama bertatapan dengan pemuda tersebut.

“Kau ada di sini?” tanya Elisha, memulai pembicaraan yang sudah lama terputus. Embusan angin laut yang semakin kencang menerbangkan rambut panjang Elisha. Di bawah biasan senja sore, Wira masih senang memperhatikan setiap mimik wajah Elisha yang menurutnya semakin cantik.

“Ya, aku di sini! Laut pertama dan terakhir yang kita datangi bersama.” Wira menjawab. Elisha terdiam. Ingatannya langsung melekat ke empat tahun lalu. Dimana mereka berdua berdiri di tempat yang sama, saling mengakui perasaan masing-masing namun tak dapat melanjutkannya.

“Kenapa kamu pergi gitu aja? Kenapa kamu nggak berusaha mempertahankan aku?” nada suara Elisha mulai bergetar. Tergenang sudah air mata Elisha di pelupuk mata. “Apa pengakuan kamu empat tahun yang lalu adalah sebuah kebohongan?” tumpah sudah air mata kesedihan Elisha di pipinya.

Jarak mereka masih terpaut dua meter di depan. Mereka tak berani saling mendekat karena takut akan menimbulkan sebuah kesakitan hati satu sama lain jika mendekat.

“Hal ini yang baru aku pelajari selama hidup ini. Sebuah keikhlasan.” Wira mulai menjelaskan. “Jika ini bukan ikhlas namanya, aku bisa saja menculikmu kapanpun. Dan tak akan membiarkan siapapun memiliki kamu.”

“Lalu apa kamu akan mengikhlaskan aku begitu saja? Tak ada perjuangan sama sekali?” makin banyak air mata yang mengalir di pipi Elisha, membuat Wira ingin melangkah maju untuk mendekatinya, lalu menghapus kesedihan itu. Namun kakinya terlalu berat untuk melangkah karena ia takut.

“Ada waktunya kapan kita perlu memperjuangkan sesuatu secara mati-matian dan kapan kita perlu melepas sesuatu dengan penuh keikhlasan.” ujar Wira. “Seperti dahulu, ayahku, aku, dan Wina berjuang menyelamatkan ibuku dari penyakit yang ia derita untuk disembuhkan. Kami terus berusaha dan berdoa agar       ibuku dapat sembuh kembali. Tapi dari usaha yang telah kami lakukan, Tuhan ternyata mempunyai jalan lain yang lebih indah. Kami nggak tega terus-terusan melihat ibu menderita karena penyakitnya. Mungkin dengan diambilnya nyawa ibuku, beliau akan lebih bahagia di sana dan tanpa merasakan rasa sakit yang terus dideritanya. Maka dari itu, kami harus melepasnya dengan ikhlas setelah kami memperjuangkannya mati-matian.”

“Dan aku?”

“Setidaknya kamu sudah tahu bahwa aku menyukaimu. Begitu juga aku. Namun keluargamu mungkin lebih merasa lega dan bahagia jika kamu bersama dengan Rama bukan denganku. Aku belum mempunyai wewenang untuk mengajakmu pergi atau kabur karena aku sadar aku tidak memiliki hal apapun untuk membuatmu bahagia jika kau pergi denganku. Lalu kuputuskan untuk mengikhlaskan dirimu dengan Rama pada saat itu.” Wira terus menjelaskan. Matanya yang sedari tadi menatap tajam Elisha, mendadak mengarah ke laut yang terbentang di hadapannya. “Namun ini semua bukanlah akhir, El. Aku berjanji pada diriku sendiri jika telah mendapatkan sesuatu yang dapat membuatmu bahagia di sisiku, aku akan datang menjemputmu meski aku tak tahu apa aku sudah terlambat atau belum.”

“Bagaimana kamu bisa yakin jika keikhlasan kamu belum terlambat? Bagaimana jika detik ini aku sudah menikah dengan Rama?” Elisha mencoba untuk menahan diri agar tak berteriak.

Sekali lagi Wira menatap tajam ke dalam mata Elisha. Langkahnya tak berat seperti sebelumnya. Ia berjalan mendekat dengan perlahan. Persis sekarang di hadapannya berdiri seorang gadis yang empat tahun lalu begitu ia sayangi dan sampai detik ini perasaan terdahulu belum berubah. Wira tetap mencintai Elisha dari dahulu hingga sekarang.

“Karena aku yakin dengan mengikhlaskan cinta, kita malah akan dapat menggapainya.” setelah mengucapkan kalimat tersebut, sesuatu yang paling ditakuti oleh Wira pun dilakukannya. Sebuah pelukan mendekap Elisha dengan penuh kehangatan di tengah angin laut yang terus berembus. Elisha menangis semakin menjadi. Perasaan kesal, marah, rindu, senang, dan beribu perasaan tak terdefinisi berkumpul menjadi satu di dalam pelukan Wira. “Terima kasih sudah bersabar selama ini. Terima kasih.” bisik Wira tepat di telinga Elisha.

Sudah saatnya untuk mereka berdua menggapai sebuah kebahagian dari kesabaran dan keikhlasannya selama ini. Ini janji dari Tuhan untuk umat-Nya yang bersabar, dan terus berusaha meski ada peluang untuk putus asa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s