Berteman lagi?

Kedua tatapan mata ini bertemu kembali. Lama sudah mereka tak bertatap muka bahkan berpandangan cukup lama seperti saat ini. Hanya ada ekspresi saling terkejut di antara Nerina dan Reza, mantan sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu.
“Ha…hai!” sapa Reza dengan gagap.
Nerina hanya dapat tersenyum paksa. “Ha…hai juga!” balas Nerina tak kalah gagap.
Keheninganlah yang dapat melanda mereka di saat seperti ini. Dari Reza maupun Nerina sepertinya sudah kehilangan topik pembicaraan. Padahal empat tahun lalu, setiap kata pun dapat menjadi topik yang seru bagi mereka.
“Lagi sibuk belanja ya?” tanya Reza basa-basi sembari melirik kedua tangan Nerina yang digantungi oleh tas belanjaan.
“A…ya, seperti itulah!” jawab Nerina singkat. Tanpa dipungkiri, hatinya berdebar kencang. Inilah kali pertama ia bertemu Reza lagi setelah satu setengah tahun lamanya, semenjak mereka putus.
“Ada waktu buat ngobrol-ngobrol sebentar di cafe?” tawar Reza seraya tersenyum. Nerina dapat menangkap senyuman Reza itu. Senyuman yang dulu ia lihat hampir setiap hari. Senyuman yang membuat dia susah untuk move on setelah putus dari lelaki tersebut.
“Boleh!” Nerina setuju. Mereka berdua pun duduk-duduk di sebuah kedai kopi sembari bercerita mengenai kehidupan masing-masing setelah berpisah.
“Jadi lo baru putus?” tanya Nerina hati-hati setelah mendengar cerita Reza.
“Ya, begitulah!” Reza membenarkan. “Terkadang,” pandangan Reza menerawang. “gue nyesel udah putusin lo dulu.” ingatan Nerina langsung kembali kepada peristiwa satu setengah tahun yang lalu, dimana Reza memutuskannya hanya karena masalah yang menurutnya abstrak.
Nerina mencoba tertawa, namun ia tahu tawanya tak renyah. “Itu kan masa lalu, Za. Pasti ada penyesalan.” Nerina menyahut.
“Lalu, apa lo nggak pernah rindu sama gue?” Reza langsung menembak pertanyaan mati. Nerina terdiam tak menjawab. Bagaimana mungkin ia melupakan Reza dengan mudah? Walau ia bukan pacar pertama tapi Reza adalah satu-satunya lelaki yang pernah berkesan di hati Nerina untuk waktu yang lama.
“Pernah sih.” Nerina menghela nafas. Reza tersenyum mendengar jawaban singkat Nerina.
“Apa kita bisa,” hati Nerina makin berdegup kencang. “berteman seperti dulu lagi? Mulai dari zaman sebelum kita pacaran?”
Pandangan Nerina tertuju tajam ke mata Reza. Kepalanya terangguk. “Bisa.” ujarnya pelan.
“Benarkah?”
Nerina mengangguk memastikan. “Untuk merayakan pertemanan kita lagi, gue mau minta lo melakukan satu hal, Za.”
“Apa?”
“Lo datang ke pernikahan gue minggu depan ya?”
Bak disambar petir di siang bolong setelah mendengar perkataan Nerina barusan. Reza tergagap dan seolah salah mendengar dengan maksud Nerina. Tapi ternyata pendengarannya tidak salah. Terdapat sebuah cincin perak melingkar di jari manis Nerina.
Reza tersenyum kecut. Ribuan penyesalan tertanam mendadak karena sudah memutuskan Nerina. Ia merasa menjadi yang paling bodoh sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s