Pupus

“Ya ampun Fer, makasih banget ya bantuannya tadi!” ujar Hilda seraya tersenyum lebar kepada Ferdy, salah satu teman sekelasnya yang telah membantu Hilda dalam mengerjakan soal Kimia tadi.
“Sama-sama, Hil. Apa gunanya teman coba kalau nggak saling tolong?” balas Ferdy. Tentu saja Ferdy senang hati dalam menolong Hilda. Ferdy menyukai Hilda semenjak mereka sekelas. Hilda duduk di depan Ferdy sehingga intensitas kedekatan mereka sangatlah akrab.
“Lo emang teman yang paling baik, Fer.” Hilda menepuk-nepuk pelan bahu Ferdy. Mendadak, hati Ferdy berdegup kencang. Sudah sejak lama Ferdy berencana ingin mengutarakan perasaan terdalamnya kepada Hilda namun lagi-lagi Ferdy terbentur oleh perasaan tidak enak. Ia takut jika Hilda mengetahui perasaan sebenarnya, gadis itu akan menjauhinya. Tapi jika ia tetap memendam perasaan ini, Ferdy juga takut akan ada lelaki lain yang akan menyalipnya untuk mendapatkan hatinya Hilda.
“Gue mau ngomong sesuatu.” mendadak Hilda dan Ferdy berkata hal yang sama berbarengan. Hilda tertawa kecil.
“Lo duluan deh, Fer!” suruh Hilda.
“Lo duluan aja, Hil! Ladies first.” timpal Ferdy.
“Dasar lo!” Hilda pun menengok ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan tak ada orang yang menguping pembicaraan mereka. “Sebenarnya gue agak malu sih bicara tentang hal ini,” Hilda pun memulai ceritanya. “tapi kalau gue pendam terus, gue takutnya nyesel pada akhirnya.” Ferdy menahan nafas ketika mendengar lanjutan cerita Hilda.
“Lo mau cerita apa ya?” Ferdy tak sabaran dengan cerita Hilda selanjutnya.
Hilda menatap mata Ferdy. “Lo mau nggak,” kalimat seperti itulah yang Ferdy tunggu-tunggu sedari tadi dan berharap jika kelanjutannya berbunyi seperti ini ‘jadi pacar gue?’. Dan ternyata sambungan kalimat itu diluar dugaan dari harapan Ferdy.
“M…maksud lo?” tanya Ferdy gagap.
“Masa mesti gue ulang sih?” Hilda tak kuasa menahan malu. Pipinya telah berubah warna menjadi seperti tomat. “Lo mau nggak, comblangin gue sama Dion, temen lo di kelas sebelah, Fer?” pinta Hilda dengan tatapan penuh harap. “Gue suka dia udah lama. Mau ya bantuin gue?” Hilda tersenyum manis dan tak menyadari perubahan ekspresi wajah Ferdy.
Tubuh Ferdy serasa melayang. Tak ada lagi senyuman kegembiraan yang terpancar di wajah pemuda tersebut. Namun air wajah Hilda yang terlihat begitu manis dapat meluluhkan hati Ferdy.
“Sebisa gue, Hil.” sahut Ferdy memaksa untuk senyum. “Sebisa gue apakah gue sanggup ngelihat lo pacaran sama cowok lain.” lanjut Ferdy dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s