Seperti Biasa

Kau datang padaku saat hujan turun dengan lebat malam hari itu. Aku menemukanmu menggigil di depan teras kosanku dengan keadaan basah kuyup. Tanpa pikir panjang lagi, aku mempersilahkan kau masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Dengan segera aku mengambil handuk di kamar dan menyampirkannya di pundakmu.
Namun aku menemukan sesuatu yang ganjil di sana. Di bawah matamu. Terdapat setetes air yang mengalir dan itu bukan air hujan melainkan air mata.
“Ada masalah apa lagi?” tanyaku langsung. Kau yang lagi sibuk mengeringkan rambut panjangmu, mendadak terdiam, lalu menatapku perlahan.
“Ketahuan ya?” kau mencoba tersenyum namun gagal di mataku.
“Dia kenapa lagi? Nyakitin lo lagi?” aku sudah tahu apa yang ingin kau ceritakan. Pasti tak jauh-jauh soal dia.
Senyum palsumu mendadak hilang dan yang ada sekarang hanyalah tangisan asli. Bahumu berguncang. Kau terisak. Aku tahu aku salah menanggapimu kali ini. “So…sorry,” aku langsung duduk di sebelahmu sembari memegang pundakmu. “bukan itu maksud…” mendadak kedua tanganmu melingkar di pinggangku. Kau menelusup di antara dada dan bahuku, lalu membenamkan wajahmu di situ. Dapat kurasakan air mata hangatmu tepat di hatiku.
“Bagaimanapun gue disakitin sama dia, entah mengapa gue berat buat lepas darinya. Gue udah terlanjur sayang.” tangisanmu makin mendalam.
Seperti biasa, aku hanya dapat membelai rambutmu sembari lagi-lagi berkata, “Menangislah!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s