Kemungkinan

Mereka bertemu di depan danau biru siang hari ini. Suasana yang sejuk serta matahari yang tak membagi sinarnya secara mengerang, membuat pertemuan di antara Ariana dan Yoga semakin berkesan. Sedari jauh, Yoga dapat menangkap sosok Ariana yang hari ini tampil luar biasa menarik, seperti biasanya, dengan balutan mantel kuning lemon, dipadu rok mini hitam, serta heels yang berwarna serupa dengan mantel yang dikenakan gadis tersebut.
“Hai, maaf udah nunggu lama!” ujar Yoga ketika sudah berada di hadapan Ariana. Gadis itu hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
“Aku juga baru datang.” Ariana membalas. “Nah, sekarang ada perlu apa nih kita ke sini?” tembak Ariana langsung. Nafas Yoga tercekat begitu mendapat pertanyaan seperti demikian dari Ariana. Matanya berputar mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Hingga pada akhirnya, Yoga menarik tangan Ariana untuk mengikutinya. “Nggak usah jauh-jauh juga, Ga.” cetus Ariana tiba-tiba sehingga langkah mereka terhenti di depan bangku cokelat di bawah pohon cemara. “Aku tahu kamu mau bicara tentang apa.” nafas Yoga tertahan sebentar. Butuh waktu sekiranya lima detik sebelum ia membalikan badannya, lalu memeluk Ariana seerat mungkin.
“Mungkin aku satu-satunya pria paling pecundang yang pernah ada, Na. Aku juga heran kenapa aku bisa terlahir seperti ini.” dalam pelukannya, Yoga tak henti-hentinya memaki diri sendiri. Tangan Ariana yang penuh kelembutan pun menepuk-nepuk pelan punggung Yoga.
“Ini bukan salah siapa-siapa, Ga. Kamu bukan pecundang kok.” Ariana membesarkan hati Yoga.
“Tapi kenapa aku susah sekali untuk bilang ‘nggak’ sih?” Ariana pun menyudahi pelukan mereka. Mata mereka saling bertatapan. Ada yang aneh dari pandangan Ariana. Ada pandangan tidak rela di sana namun senyumnya berusaha menutupi itu semua.
“Sudah waktunya kamu bahagia, Ga. Kalau sama aku terus, kamu nggak mungkin bahagia. Percaya deh, Vira lebih mampu buat kamu bahagia.” Ariana berkata dengan tersenyum manis. Gadis itu tahu benar jika hatinya benar-benar terkoyak dengan perkataannya itu namun senyumannya mampu membuat hatinya tulus.
“Kenapa aku mesti dijodohkan dengan Vira? Kenapa nggak sama kamu aja?”
“Vira adalah kakakku satu-satunya. Ia lebih membutuhkan kamu dan pria baik seperti kamu pantas mendapatkan wanita baik seperti Vira.”
“Dan kamu?”
Ariana terdiam. “Buat Vira bahagia! Itu sama saja dengan buat aku bahagia.” ia tak menjawab dengan jelas pertanyaan Yoga. Sebelum ia berubah pikiran, Ariana membalikan badannya dan meninggalkan Yoga. Gadis itu tahu bakal membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk merelakan Yoga dan ia tahu juga bakal membutuhkan waktu yang tidak sebentar bagi Yoga untuk melupakan dirinya. Walau segala kemungkinan mungkin masih bisa saja terjadi.

Inspired by: Ecoutez – Percayalah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s