Tak Lagi Sama

Di sebuah malam pekat tanpa cahaya bulan maupun bintang, sepasang pemuda-pemudi menghentikan mobil sedan di bukit timur. Gemerlap lampu yang berasal dari kota di bawah bukit menghiasi bak kunang-kunang di ladang ilalang. Pemuda-pemudi itu saling terdiam dan berpikir masing-masing.
Entah untuk mengusir keheningan, sang pemudi itu turun dari mobil. Semilir angin malam langsung menerpanya, meniup kencang rambut panjangnya. Ia pun makin merapatkan jaket hitam yang dikenakannya. Tak lama kemudian, sang pemuda pun ikut turun dari mobil dan berjalan menghampiri sang pemudi yang berdiri menghadap ke pemandangan malam hari kota bawah bukit timur.
“Tempat pertama kita.” ujar Rifky, nama sang pemuda.
“Ya!” balas sang pemudi yang bernama Christine. “Masih seperti empat tahun lalu.” pikiran Christine pun mencoba terbang ke memori empat tahun silam namun buru-buru hatinya menutup pintu memori tersebut. Tak dapat dicegah lagi, mendadak sebutir demi sebutir cairan bening mengalir deras di pipi Christine. Sudah tak ada alasan lain lagi baginya untuk terus menampung air mata di danau matanya. Hatinya lega namun terluka akan arti air mata ini.
“Kenapa menangis?” tanya Rifky pelan seraya mencoba menghapus air mata yang membasahi pipi Christine.
Christine masih terisak pelan. “Semoga keputusan ini nggak salah.” jawab Christine dalam isakannya.
Rifky menggelengkan kepala sembari tersenyum. “Nggak ada yang salah. Semua benar. Memang ini adanya.”
Christine menatap dalam Rifky. Hatinya tahu benar jika pemuda yang berdiri di depannya itu sangat ia cintai, terlalu dicintai malah. Namun saling mencintai bukan berarti tidak ada perbedaan yang melintang. Bukan berarti semuanya lancar seperti rencana.
“Cinta mungkin masih sama tapi tujuan mungkin sudah tak lagi sama.” ujar Christine mencoba menenangkan diri. Ia sudah tak menangis lagi. “Sekompak apapun hubungan yang terbangun tapi tanpa tujuan akhir yang sama, itu percuma belaka.”
Rifky mengangguk mengerti. “Maaf.” ucapnya, lalu menyambut kedua tangan Christine.
“Nggak ada yang salah di sini. Anggap ini proses pendewasaan diri.” ralat Christine.
Mereka pun saling memberi pelukan. Sebuah pelukan erat, yang mereka tahu jika pelukan ini bukan sebagai obat maupun penarikan keputusan kembali, melainkan sebagai kenangan sebelum mereka saling melepas untuk selamanya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s