Singapore 2013: First Day

Deg-degan tanpa henti

Saya dan Anas sama-sama belum pernah naik pesawat dan otomatis sama-sama belum pernah keluar negeri. Kami terbilang otodidak. Paspor saja baru dibuat untuk perjalanan kali ini. Nekat? Bisa dibilang begitu tapi tentu saja nekat dengan penuh persiapan.

Pesawat akan terbang jam 9.15 dan itu berarti kami harus sudah berada di Bandara Soetta jam 7 pagi. Saya menggunakan fasilitas bus Damri dari Gambir untuk sampai bandara sedangkan Anas memilih naik taksi dari rumahnya di daerah Cimanggis, Depok. Alhamdulillah, kami bertemu di terminal 2 tepat jam 7 kurang sepuluh. Penerbangan internasional memang berada di terminal 2 dan maskapai Value Air atau Jetstar berada di terminal 2D (untung saja bus Damri memang menurunkan penumpangnya sesuai dengan maskapai masing-masing).

IMG_1495

Narsis dalam kegalauan

Setelah kami bertemu, kami pun segera masuk untuk mendapatkan boarding pass. Layaknya orang yang baru pertama kali ke bandara—ini serius loh, saya dan Anas sama-sama belum pernah menginjakan kaki ke Bandara Soetta—mata kali terus-terusan terperangah jika menemukan pemandangan yang ajaib (melihat pembungkusan koper saja kami merasa takjub). Tak hanya itu pula, hati kami sama-sama berdegup kencang dan tidak tenang selama belum duduk di kursi pesawat. Ketika kami menukarkan boarding pass saja deg-degan padahal mas-mas Jetstarnya ramah banget. Tahap selanjutnya yang tak kalah mendebarkannya adalah tahap imigrasi. Paspor kami dicek untuk mendapatkan cap. Takutnya ada something’s trouble terus kami dipulangin lagi, kan nggak lucu.

Finally, kami berhasil lewat tahap tersebut. Namun belum cukup sampai di sini hati kami berdebar. Saatnya tahap masuk ke boarding gate. Seluruh badan dan barang bawaan kami dicek kembali. Untungnya, mulus tanpa sesuatu masalah. Kami pun menunggu manis di gate yang tertera di tiket pesawat kami. Saya sempat memberi kabar kepada orangtua saya sebelum terbang.

Tahap selanjutnya adalah kami diperbolehkan untuk naik ke pesawat. Lagi-lagi rasa takjub kami muncul kembali. Pramugarinya ramah dan nomor tempat duduk tertera jelas. Saya pun merasa lega dan ditambah lagi, saya mendapatkan tempat duduk tepat di sebelah jendela. Itu berarti saya bisa melihat awan dan pemandangan dari atas. Yeeaayy! Tak perlu delay ataupun menunggu, pesawat kami pun take off tepat pada waktunya.

Picture4

See ya!

Singapore, here we come!

Pesawat kami landing tepat jam 12 siang waktu Singapore (perbedaan waktu di Singapore maju satu jam dari Jakarta). Deg-degan pun menghampiri kami kembali. Itu berarti kami akan melewati tahap mendebarkan lagi, yakni imigrasi. Setibanya di Changi International Airport, kami dihadapi oleh petugas imigrasi Singapore yang mayoritas seperti orang India—berkulit hitam, besar-besar, dan di tengah dahinya ada titik merahnya. Deg-degan? Sangat pakai banget. Mana petugas imigrasi yang bertugas mengecek saya adalah pemula sehingga kadang salah dan diberitahu mentornya, jadi agak lama deh.

Setelah pengecekan selesai, kami harus pergi ke terminal 2 untuk menggapai MRT. Di luar ketakutan saya, ternyata petunjuk di Changi benar-benar jelas dan terhampar dimana pun sehingga kami tidak perlu takut nyasar. Kami dengan mudah menggapai skytrain, transportasi yang menghubungkan antar terminal di Changi yang setipe dengan MRT (FYI, gratis).

Tidak berhenti di situ saja, petugas imigrasi sebenarnya sudah menunggu untuk mencap paspor kami. Saya takut sekali jika ditanya yang macam-macam. Yang lebih takut sih saya tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi untungnya, tidak ditanya macam-macam. Cuma ‘Mau ngapain ke Singapore?’, ‘Sama siapa?’, ‘Berapa hari?’, ‘Oh gitu?’, dan dicap deh paspor saya. Rasanya lega bukan main. Serasa lulus UAN. Hehe.

Berikutnya, saya dan Anas menunju Changi MRT Station yang letaknya memang masih satu kawasan dengan bandara Changi. Sebelumnya, kami sepakat untuk membeli STP (Singapore Tourist Pass), kartu tap MRT yang memang dipergunakan untuk para turis yang mengunjungi Singapore kurang dari seminggu. Dengan bermodalkan SGD 30 (dikarenakan kami mengambil paket 3 hari; SGD 20 harga tiket untuk 3 hari dan SGD 10 sebagai security deposit, total SGD 30), kami dapat berkeliling Singapore dengan MRT sampai mabok—maksudnya sampai puas.

 

Picture6.jpg

Kartu STP

 Dari Changi Station, kami naik MRT sampai ke Tanah Merah Station untuk transit menuju stasiun tujuan utama kami, yakni Bugis Station, tempat dimana penginapan kami berada. Sesampainya di Bugis Station, hal yang pertama kali dilakukan adalah membaca peta stasiun. Hal ini benar-benar sangat dianjurkan bagi para pemula mengingat stasiun MRT berada di bawah tanah dan kita harus menaiki tangga untuk sampai keluar. Ditambah lagi, banyak pintu keluar di sana sehingga untuk meminimalisasikan agar tidak salah keluar (muternya jauh boo kalau sampai salah keluar). Jeng-jeng, kami pun tidak salah keluar karena membaca peta terlebih dahulu.

Kami berjalan dari Bugis Station sampai ke penginapan kami. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Yang sedang-sedang saja. Cuaca Singapore memang tidak jauh dari Jakarta. Panas, menyengat. Tapi minim polusi sehingga kami tidak terlalu terengah-engah.

Kami menginap di sebuah hostel—bukan hotel—bernama ABC Hostel yang terletak di Jalan Kubor. Sepanjang perjalanan menuju Jalan Kubor, saya dan Anas tak henti-hentinya tersenyum geli membaca plang jalan di sekitar situ karena namanya lucu-lucu. Ada Jalan Pisang dan ada Jalan Pinang. Sama seperti di Indonesia.

Kembali ke ABC Hostel. Kami memilih ABC Hostel lantaran memiliki female dorm, fasilitas oke, dan letak strategis. Kami memesan kamar yang bermuatan untuk empat orang. Itu berarti kami akan sekamar dengan dua orang asing yang sama sekali tidak kami kenal. Tentu saja kami penasaran dan deg-degan. Takutnya sekamar dengan turis asing yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar.

Picture7

ABC Hostel

Tempat tidur di kamar kami bertingkat. Saya pun diputuskan secara sepihak untuk menempati tempat tidur di lantai dua alias di atas. Dengan alasan, saya lebih kurus daripada Anas. Oke, saya pun terima.

IMG-20130328-WA0006

Di dalam kamar hostel

Setelah lepas lelah sejenak, solat, dan mandi, kami pun bersiap-siap untuk menjalankan itinerary yang telah tersusun secara matang. Cuaca panas Singapore membuat kami untuk mandi terlebih dahulu sebelum pergi jalan-jalan. Setelahnya, kami segera meninggalkan hostel untuk memulai petualangan pertama kali, yakni menjelajah Orchard Road.

Hujan di Orchard Road

Pukul 4 sore, kami kembali berjalan menuju Bugis Station. Cuaca saat itu sudah mulai gluduk-gluduk. Was-waslah kami. Tapi tetap saja kami melaju. Dari Bugis Station, kami harus transit di City Hall Station untuk menggapai Orchard Station. Eng ing eng, kami pun disambut hujan rintik-rintik sesampainya di Orchard. MRT yang berada di bawah tanah membuat kami tidak tahu cuaca di luar seperti apa. Ya sudahlah, yang penting hujannya tidak terlalu deras sehingga kami masih dapat menyusuri Orchard Road.

Ketakjuban kami pun kembali muncul. Mall-mall besar berderet di sepanjang Orchard Road. Tak ketinggalan pula, kami menyempatkan mencicipi Uncle Ice Cream—kakek-kakek penjual es krim persegi panjang yang dipotong-potong, lalu diselipkan di atas roti tawar—yang berjualan di depan mall-mall Orchard. Cuma SGD 1 doang es krimnya.

Sembari menikmati es krim dan memakai payung, kami pun berjalan menyusuri Orchard Road. Tidak lupa, ritual para turis setiap ke tempat ini, yaitu foto di bawah plang yang bertuliskan Orchard Road.

Picture8

Under my umbrella, ella, ella

Kami pun mengunjungi Lucky Plaza. Katanya ada oleh-oleh cokelat murah di situ. Tapi perut kami memanggil terlebih dahulu. Dengan indera penciuman yang tajam, kami pun berhasil menemukan food court di tempat tersebut. Saya memilih menu Chicken Rice, makanan dalam daftar kuliner saya. Bodohnya, ketika saya sudah memulai makan, saya lupa mencari logo halal dalam makanan yang saya makan. Oh, my God! Akhirnya, dengan bermodalkan Bismillah, saya pun menyantap makanan tersebut—semoga saja halal, Ya Allah!

Picture9

Chicken Rice

Selesai makan, kami pun ‘menjarah’ Lucky Plaza. Entah mengapa, mata saya tidak tertarik dengan kata ‘sale’ dan lebih tertuju pada item yang bertuliskan $10 for 4 atau $10 for 3—mental backpacker sejati. Apalagi ketika mata saya menemukan item bertuliskan $10 for 25. Langsung melototlah. Walaupun cuma gantungan kunci, tapi sudah lumayan untuk oleh-oleh. Baru hari pertama, kami sudah kalap belanja dan harus dihentikan sudah.

Sekeluarnya dari Lucky Plaza, kami kembali menyusuri Orchard Road. Suasana masih terang benderang walaupun waktu telah menunjukan pukul enam sore. Untung saja hujan telah berhenti sehingga payung dapat kami masukan ke tas. Namun tetap saja tangan menenteng sesuatu, yaitu belanjaan.

Destinasi selanjutnya adalah Mustafa Shopping Center yang terletak di Farrer Park. Untuk menggapainya, kami harus naik MRT dari Orchard, lalu transit di Dhoby Ghaut untuk sampai ke Farrer Park. Karena kami sudah berjalan jauh dari Orchard Station, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan hingga ke Dhoby Ghaut Station. Lumayan capek tapi puas untuk foto-foto.

Dhoby Ghaut Station terletak di bawah sebuah mall (lupa apa nama mall-nya). Di situ, kami rehat sejenak dengan membeli cemilan. Baru setelahnya, kami beranjak. Teman saya sudah mengingatkan, Dhoby Ghaut Station denahnya agak rumit. Benar saja, kami sempat nyasar di dalam stasiun sebelum menggapai line yang benar.

Nyasar di sekitar Mustafa

Sesampainya di Farrer Park, suasana langit sudah mulai redup, seperti mendekati maghrib tetapi jam telah menunjukan pukul setengah tujuh lewat. Tujuan kami ke Mustafa adalah untuk membeli oleh-oleh cokelat. Katanya cokelatnya murah dan halal. Setelah mengitari Mustafa, kami tidak menemukan apa-apa. Kemana perginya cokelat-cokelat itu?

Sampai pada akhirnya, kami agak menyerah untuk mencari dan memutuskan untuk kembali saja ke hostel. Mengingat jam telah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Tapi sebelum beranjak, mata saya tertuju pada sebuah toko yang sepertinya belum kami kunjungi. Tidak ada cokelat di sana tapi saya malah membeli sepatu. Akhirnya saya memberanikan bertanya kepada kasir toko tersebut mengenai tempat yang berjualan cokelat. Ia pun memberitahu dimana tempatnya. Ternyata toko yang jualan cokelat letaknya berseberangan dengan toko tempat saya membeli sepatu. Kami langsung cus setelah membayar. Benar saja, di toko yang disebutkan mbak-mbak kasir itu terhampar luas cokelat-cokelat berbagai macam. Saya maupun Anas mulai kalap berkeliling. Seperti biasa, sebungkus cokelat yang harganya di bawah SGD 10 lebih menarik perhatian.

Kami mulai kelelahan setelah berburu cokelat. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke hostel. Langit sudah mulai gelap, badan sudah mulai kehabisan tenaga, dan otak pun sudah susah berpikir. Pusinglah kami mencari jalan pulang. Peta yang selalu dibawa rasanya seperti selembar kertas kosong karena otak saya sudah susah untuk mencerna. Kami menyeberang jalan, terus membaca peta dan ternyata salah menyeberang jalan, sehingga harus balik lagi. Sampai pada akhirnya, GPS otak saya mulai berfungsi kembali.

Jarak dari Mustafa ke hostel tidak terlalu jauh sehingga kami memutuskan untuk jalan kaki saja karena bakal lebih ribet jika naik MRT—kami tidak berani naik bus karena tidak tahu haltenya. Sepanjang perjalanan menuju hostel, saya dan Anas sudah lelah dan mengantuk. Untung saja, kami hanya perlu jalan lurus sampai pada akhirnya mata kami menemukan plang bertuliskan Victoria Street. Itu berarti, kami harus belok kanan untuk mencapai Jalan Kubor. Dan akhirnya, kami pun tiba di ABC Hostel dengan keadaan tak jelas junjungannya.

Picture10

Teman sekamar

Ketika kami memasuki kamar, lampu telah menyala dan dua buah koper besar sudah tergeletak tetapi tak ada satupun orang di dalamnya. Itu berarti teman sekamar kami telah datang. Hati saya deg-degan, darimana asalnya teman sekamar saya ini. Saya maupun Anas penasaran. Sampai pada akhirnya, masuklah dua orang perempuan ke kamar. Dari wajah-wajahnya, kedua perempuan tersebut masih rasis Melayu. Saya memberanikan menyerukan kata, “Indonesia?”. Dan ternyata, kedua perempuan tersebut memang orang Indonesia. Tertawalah kami berempat ketika sama-sama tahu jika berasal dari satu tanah air yang sama. Kedua teman sekamar kami berasal dari Bali (saya lupa siapa namanya tapi sebut saja Mawar dan Melati). Mereka baru tiba di Singapore malam hari ini. Lega deh saya karena mendapatkan teman sekamar dari Indonesia juga.

Kuliner malam

Perut saya maupun Anas sudah keroncongan lagi. Setelah menaruh belanjaan dan rehat sejenak di kamar hostel, kami pun melanjutkan jalan untuk mencari makan malam. Waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Toko-toko makanan di sekitar Bugis rata-rata sudah tutup semua. Kami pun menemukan sebuah restoran India yang masih buka. Ternyata restoran tersebut menjual nasi briyani, salah satu makanan dalam daftar kuliner saya.

Saya sudah tahu jika porsi nasi briyani sangatlah banyak sehingga saya memutuskan untuk memesan satu porsi saja, dibagi dua dengan Anas. Benar saja, nasinya seperti sebakul, lalu ditambah ayam segede gaban, terus ditimpa nasi secentong lagi dan dituangkan sesendok sayur kuah kari.

Picture11

Nasi briyani dan teh tarik

Sebenarnya saya tidak terlalu lapar tetapi saya harus makan agar tidak masuk angin. Lain halnya dengan Anas, dia tidak menyukai nasi briyani ini karena katanya ada rasa cengkehnya. Memang loh, nasi briyani ini ada cengkeh di dalamnya. Sebenarnya saya suka tapi tidak dalam waktu yang benar-benar kelaparan. Akhirnya kami sama-sama menyerah dan tidak sanggup untuk menghabiskan nasi briyani tersebut. Mohon maaf banget sama mas-mas India yang jualan.

Sehabis makan malam, kami kembali ke hostel untuk mandi, lalu bersiap tidur. Hari pertama saja sudah membuat kaki cenat-cenut dan badan rontok. Tapi kami tetap antusias menyambut dua hari ke depan. Saya dan Anas sama-sama memasang alarm agar besok tidak kesiangan karena jadwal padat dan kami harus sudah mulai jalan dari pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s