Singapore 2013: Second Day

Hari kedua, itinerary kami memang sudah direncanakan padat membahana. Saya dan Anas sama-sama telah memasang alarm tepat jam 5 pagi waktu Singapore. Dengan bermodalkan tiga ponsel—dua ponsel saya dan satu ponsel Anas—kami pun optimis dapat bangun tepat waktu. Dan rupanya…jeng jeng jeng! Kami baru kebangun jam 7 pagi. Gradak-gruduk? Pastinya! Saya langsung membangunkan Anas untuk segera mandi dan bergegas sarapan.

Rencana kami yang disusun akan jalan dari jam 8 harus molor 30 menit sehingga kami baru mulai keluar dari hostel jam 8.30 pagi. Ketika kami analisis mengapa bisa terlambat bangun, ternyata jam ponsel Anas masih di-setting jam Indonesia sedangkan jam ponsel saya walaupun sudah dimajuin satu jam, settingannya tetap mengacu ke jam Indonesia (pelajaran, kalau mengubah jam di ponsel, mesti diubah time zone-nya juga).
Oh ya, ngomong-ngomong soal sarapan, di hostel kami disediakan sarapan juga. Meskipun hanya roti tapi cukup mengganjal perut. Tak hanya roti, di dapur juga disediakan teh dan juga kopi. Rotinya juga tidak hanya roti tawar tok, ada selai, margarin, dan juga gula. Dapat dipanggang di panggangan roti pula. Semua dapat dilakukan sesuai selera karena kita yang meladeni diri kita sendiri. Dan satu hal lagi, jangan lupa mencuci piring dan gelas yang telah digunakan karena peralatan makan tersebut milik umum. Setelah kenyang sarapan—saya menghabiskan empat lembar roti dan satu cangkir teh—kami pun mulai berpetualang.
Hijau-hijau di Botanic Garden

Rencana ke Singapore Botanic Garden sebelumnya tidak ada di itinerary tetapi hasil saya ‘berguru’ ke teman kantor, saya disarankan untuk mengunjungi tempat ini. Katanya, dulu Botanic Garden tidak memilik stasiun MRT tetapi sekarang sudah dibangun. Dari Bugis Station, kami pun naik MRT untuk transit di Buona Vista Station, lalu menyambung hingga ke Botanic Garden Station.

Sesampainya di sana, mata kami langsung dimanjakan oleh pemandangan serba hijau. Kalau diibarat katakan, Botanic Garden sama seperti Kebun Raya Bogor tapi bedanya Botanic Garden tidak ada tiket masuk alias gratis dan mungkin lebih terawat sepertinya. Banyak tanaman-tanaman yang diberi papan nama seperti di Kebun Raya Bogor. Selain itu, tempat ini juga dijadikan sarana jogging para penduduk di sana.

Picture1

Rehat di VivoCity

Sesuai saran dari teman kantor saya, setelah mengunjungi Botanic Garden, saya dan Anas dapat langsung naik MRT menuju VivoCity, gerbang utama menuju Sentosa Island—destinasi selanjutnya adalah Sentosa Island—, tanpa transit lagi. Dari Botanic Garden Station, kami hanya tinggal duduk manis di dalam MRT hingga stasiun terakhir, yakni Harbour Front Station, tempat di mana VivoCity berada. Uniknya, setiap stasiun MRT yang kami singgahi selalu tepat berada di bawah tanah mall yang ada di sekitarnya sehingga tidak perlu jalan keluar lagi.

VivoCity adalah sebuah mall besar sekaligus jalan masuk menuju Sentosa Island—bagi mereka yang akan menggunakan MRT khusus masuk ke Sentosa Island (kalau kata Anas lebih mirip MRT yang ada di TMII). Sebelum kami melanjutkan perjalanan, kami mengisi perut dahulu di food court VivoCity. Karena tidak banyak pilihan, saya memilih ayam penyet sebagai menu makan siang saya. Dan saya jamin, kali ini halal karena penjualnya mengenakan kerudung dan juga ada logo halal di depan kasirnya. Selain itu pula, ibu-ibu kasirnya dapat berbahasa Indonesia (pasti ini orang Indonesia yang sedang mencari nafkah di Singapore).

Setelah terisi tenaga, kami bergegas menuju MRT Station arah Sentosa Island yang berada di lantai 4 (atau 5 gitu, saya lupa) VivoCity. Sebelum itu, jangan lupa membeli tiket masuknya. Cuma $3.5 saja—naik setengah dollar dari perkiraan saya. Oh ya, bagi kalian yang punya EZ-Link, kalian tidak perlu membeli tiket masuk. Cukup tap saja—berhubung saya dan Anas membelinya STP jadi harus bayar.

Pada awalnya, kami berencana ingin masuk Sentosa lewat Sentosa Boardwalk, sejenis jembatan yang menghubungkan VivoCity dengan Sentosa. Bayarnya juga lebih murah, yakni $1 saja. Tapi karena panas dan capek, kami malas jalan dan lebih memilih naik MRT.

Picture2

Tiket MRT menuju Sentosa Island

Sentosa Island

Sentosa Island memiliki 4 buah stasiun MRT; Sentosa Station, Waterfront Station, Imbiah Station, dan Beach Station. Sentosa Station adalah stasiun pertama, yaitu yang berada di VivoCity. Waterfront Station adalah stasiun yang harus kalian singgahi jika ingin pergi ke Universal Studio Singapore (USS). Imbiah Station adalah stasiun yang bersebelahan dengan patung Merlion raksasa—jika kalian mau foto di patung Merlion raksasa, kalian dapat turun di stasiun ini. Selanjutnya adalah Beach Station, stasiun terakhir. Kalau kalian berniat menonton Song of The Sea atau ingin bermain di pantai, kalian dapat turun di stasiun ini.

Perjalanan pertama kami dimulai dengan turun di Waterfront Station. Memang tidak ada rencana ke USS tapi kami berniat foto di depan bola raksasa USS biar eksis hehe. Kami juga penasaran dengan Candylicious, toko permen yang ornamen permennya tergantung di atapnya.

Picture4

di depan bola USS

Picture5

Gerbang depan USS

Picture3

Candylicious

Merlion raksasa

Setelah puas foto-foto di halaman depan USS dan sekitarnya, kami pun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan MRT. Tujuan kami selanjutnya adalah berfoto di patung Merlion raksasa yang terletak di Imbiah Station. Selain patung Merlion raksasa, di sekitar itu juga terdapat ukiran kayu besar yang bertuliskan Sentosa. Susah sekali mendapati tulisan Sentosa itu dalam keadaan kosong karena ada saja orang yang berfoto di situ.

Picture6

depan Patung Merlion di Sentosa

Picture7

akhirnya bisa narsis tanpa diganggu

Kelelahan di Beach Station

Pada awal rencana, kami ingin bermain di sekitar pantai dan mencoba naik Beach Tram, sejenis kereta gandeng yang seperti di mall-mall yang dinaiki anak kecil. Tapi ternyata, turis yang ingin naik Beach Tram sangat berjibun. Kami mengurungkan niat untuk mencoba Beach Tram.

Oh ya, bagi para muslim, di Beach Station terdapat mushola loh. Kalian tinggal turun ke basement Beach Station (kalau bingung, tanya mbak-mbak loket MRT). Setelah selesai solat, saya dan Anas kembali kelaparan. Ternyata di dekat Beach Station, ada stan Old Chang Kee, gorengan khas Singapore—nugget dan sosis. Sembari istirahat, kami pun nyemil-nyemil cantik dan membeli beberapa gorengan Old Chang Kee.

Karena cuaca semakin panas dan waktu yang terus berjalan, akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan main di pantai. Kami melanjutkan ke destinasi berikutnya. Sebenarnya saya kurang puas bermain di Sentosa Island. Saya dan Anas berjanji jika ke Singapore lagi, kami akan meluangkan satu hari penuh di Sentosa Island. Kami akan mengunjungi USS dan menonton Song of The Sea.

Kalap di Chinatown

Destinasi selanjutnya tak kalah menggiurkan, yaitu shopping di Chinatown. Padahal agenda ke Chinatown ini sebenarnya tidak ada tetapi karena katanya barang yang dijual di sini murah-murah, akhirnya kami meluangkan waktu untuk mampir di Chinatown. Dari Harbour Front Station, kami tinggal naik MRT sekali dan turun di Chinatown Station.

Begitu tiba di Chinatown, mata kami langsung hijau. Ditambah lagi, banyak barang yang bertuliskan $… for … sehingga membuat saya semakin gatal. Alhasil, tiga kantong kresek berhasil saya tenteng dibawa pulang.

Tak hanya barang-barang murahnya saja yang menarik, di Chinatown juga banyak bangunan antik dan ornamen Cina yang bagus untuk dijadikan view foto.

Picture9

Picture8

Nyasar (lagi)

Setelah puas berbelanja di Chinatown, perjalanan kami tetap berlanjut. Destinasi kami selanjutnya adalah mengunjungi tempat wajib bila menginjakan kaki ke Singapore, yakni Merlion Park dan sekitarnya. Ketika saya lihat di peta, jarak Chinatown ke Merlion Park tidak jauh-jauh banget sehingga saya meyakinkan Anas untuk jalan kaki saja. Rutenya juga tidak terlalu sulit. Jika naik MRT, akan ribet urusannya. Dari Chinatown Station, kami harus naik MRT untuk transit di Outram Park Station, lalu melanjutkan ke Raffles Place Station.

Berangkatlah kami dari Chinatown dengan berjalan kaki, tentunya sambil foto-foto. Ternyata, semakin lama berjalan semakin lelah otak bekerja. Saya sebagai pengemban peta harus bertanggungjawab membawa Anas hingga ke tempat tujuan. Semakin kami berjalan, entah mengapa mata kami tidak menangkap hawa-hawa Merlion ataupun Marina Bay Sand. Padahal kami telah berjalan jauh. Jam juga telah menunjukan pukul setengah lima sore. Itu berarti kami sudah berjalan kurang lebih satu jam.

Picture10

di mana, di mana, di manaaa???

Akhirnya, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada bapak-bapak yang lewat. Alhamdulillah, ternyata bapak-bapaknya orang Indonesia—padahal saya sudah bertanya dengan bahasa Inggris. Menurut penjelasan bapak yang tadi, ternyata kami salah mengambil jalan. Ibarat kata, di pertigaan sebelumnya, seharusnya kami belok kiri dan kami malah belok kanan. Balik lagi deh.

Setelah mendapat petunjuk yang benar, mata kami pun dapat menangkap bangunan Marina Bay Sand yang berdiri megah. Seperti menemukan mata air di padang pasir, begitulah ekspresi saya dan juga Anas. Dengan kaki terseok-seok dan tangan kelelahan bawa kantong plastik belanjaan, kami tetap antusias menyambut Merlion Park.

Picture11

finally, Marina Bay Sands

Lowbat at Merlion Park

Tenaga kami terkuras sudah karena menyasar tadi. Kami hanya dapat duduk-duduk sambil memandangi Marina Bay Sand dari seberang. Butuh waktu setidaknya sepuluh menit untuk rehat sejenak. Baru setelahnya, kami pun kembali narsis di Merlion Park. Mengingat hari itu adalah hari Minggu, keadaan Merlion Park sudah dipadati oleh para pengunjung. Kami sempat berkenalan dengan salah seorang pengunjung—tujuan utamanya sih minta tolong difotoin. Ternyata pengunjung tersebut berasal dari Batam. Sepertinya memang banyak turis dari Indonesia yang mengunjungi Singapore.

Pada mulanya, kami berencana akan menyusuri Merlion Park hingga sampai ke Esplanade atau mungkin hingga ke Singapore Flyer, bianglala asal Singapore yang terkenal itu. Namun apa dikata, setelah melihat patung Merlion saja kami sudah puas dan tenaga kami pun sudah titik minimum untuk berjalan. Yang penting kami sudah melihat Singapore Flyer dan Esplanade dari kejauhan.

Jalan-jalan malam di Bugis Street

Agenda hari Minggu pun sudah selesai tetapi kami menyisakan satu agenda lagi pada malam harinya. Setelah kembali ke hostel, kami istirahat sejenak dan juga mandi. Ditambah perut sudah keroncongan, kami bergegas pergi setelah siap. Destinasi selanjutnya adalah Bugis Street.

Bugis Street terletak tak jauh dari hostel kami sehingga dapat ditempuh dengan jalan kaki, lebih tepatnya di belakang Bugis MRT Station. Di Bugis Street, dapat ditemukan tempat-tempat belanja, baik dalam bentuk mall atau pasar. Untuk mall-nya bernama Bugis Junction dan untuk pasarnya bernama Bugis Village. Kedua tempat tersebut letaknya berseberangan. Jangan salah terka! Pasar yang dimaksud jauh beda dari pasar-pasar di Indonesia, lebih bersih dan juga teratur.

Kami mengunjungi Bugis Junction terlebih dahulu. Walaupun tidak ada niatan untuk membeli, yang penting kami pernah masuk ke mall itu. Selanjutnya, kami menyeberang ke arah Bugis Village. Di situ terdapat pasar yang menjual barang dengan harga yang lebih miring. Tentu saja mata kami nyaris kalap tetapi saya ingat jika telah membeli banyak barang di Chinatown tadi. Sehingga yang terkena ‘kutukan’ berbelanja adalah Anas.

Picture15

Setelah puas berkeliling Bugis Junction dan juga Bugis Village, kami mencari makan malam. Saya langsung teringat dengan daftar kuliner saya. Masih ada nasi lemak dan kaya toast yang belum saya cicipi. Menurut buku panduan yang saya baca, terdapat satu restoran di daerah Bugis Village yang menjual nasi lemak dan juga kaya toast. Akhirnya, kami berhasil menemukan restoran tersebut. Qi Ji Restaurant. Kali ini saya jamin restoran ini halal (ada logo halal di menunya).

Anas memesan satu porsi nasi lemak. Namun saya lebih tertarik untuk mencicipi kaya toast namun sayangnya, menu kaya toast sudah habis. Alhasil, saya ikut memesan nasi lemak juga. Tak ketinggalan, satu gelas teh tarik juga ikut saya pesan—baru dua hari di Singapore, saya sudah sangat menyukai teh tarik.

Picture16

Nasi lemak dan teh tarik

Menerawang langit malam Singapore

Kami tahu jika malam ini adalah malam terakhir kami di Singapore karena besok sore kami sudah kembali ke Indonesia. Saya dan Anas menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sepanjang Victoria Street menuju hostel. Tak ketinggalan juga foto-foto iseng.

Sesampainya di hostel, ternyata dua teman sekamar kami telah tiba. Kami berbagi pengalaman hari ini sembari packing karena besok pagi kami harus check out sebelum jam 11 pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s