Singapore 2013: Third Day

Saya dan Anas sama-sama sudah siap untuk hari terakhir di Singapore. Mulai dari alarm pagi hingga masalah packing. Besok kami akan take off pukul setengah empat sore dan otomatis jam setengah satu siang harus sudah di bandara. Di hari terakhir, kami masih ada satu agenda lagi sehingga kami harus berangkat dari pagi.

Alarm saya maupun Anas tepat berbunyinya, yaitu jam 6 waktu setempat. Saya pun mengambil giliran pertama untuk mandi karena harus mengejar sholat Subuh juga. Setelah siap, kami pun mengambil sarapan yang sudah tersedia di dapur. Menunya memang sama seperti kemarin tetapi kebetulan saya membawa mie instant cup, jadinya sarapan double.
Setelah prepare buat check out, kami pun bersiap-siap untuk berpetualang lagi. Sambil bawa-bawa koper gitu? Oh tentu tidak! Hostel kami menyediakan tempat penitipan koper bagi para turis yang check out namun masih ingin jalan-jalan lagi. Walaupun kita harus membawa gembok sendiri untuk melindungi barang bawaan kita.
Kami pun pamit kepada teman sekamar kami. Sesudahnya, barulah agenda terakhir pun dimulai.

Last destination

Tujuan terakhir kami adalah berjalan-jalan cantik di Chinese Garden dan Japanese Garden. Untuk pergi ke sana, kami menggunakan MRT dari Bugis Station dan langsung turun di Chinese Garden Station. Walaupun tidak transit tetapi jaraknya lumayan jauh dari Bugis sehingga kami harus berangkat pagi.

Sesampainya di sana, udara sejuk langsung menyapa kami. Mata pun dimanjakan oleh hijaunya pepohonan. Jalanan lurus menuntun kami sekeluarnya dari stasiun. Di sisi-sisi jalan terdapat pepohonan serta tanah lapang berselimutkan rumput hijau. Suasana pun jauh dari bisingnya kendaraan. Benar-benar pemandangan yang jarang—tidak pernah sepertinya—kami temukan di Jakarta.

Picture17

Chinese Garden dan Japanese Garden terletak dalam satu kawasan. Di dalamnya terdapat banyak bangunan yang mencirikan kedua negara tersebut. Untuk lebih awal, saya akan membahas mengenai Chinese Garden terlebih dahulu.

Chinese Garden

Di Chinese Garden, dapat ditemukan banyak patung pahlawan Cina. Tak hanya itu pula, terdapat pagoda replika yang bagus dan mirip seperti aslinya. Suasanya yang antik dan ditambah oleh sejuknya udara, tempat ini bagus untuk sekadar lari pagi atau jogging. Tak sedikit pula orang-orang yang memilih tempat ini untuk berolahraga.

Japanese Garden

Tak jauh berbeda dari Chinese Garden, di Japanese Garden juga memiliki keunikan tersendiri akan penampilannya. Banyak gazebo yang pernah saya temukan ketika menonton drama kolosal Korea. Berasa seperti sedang syuting film Korea saja. Jika saja ditambah Korean Garden, pasti lebih seru (berharap).

Kenalan dengan turis Vietnam

Ketika kami sedang asyik foto-foto, tiba-tiba saja seorang wanita datang menghampiri kami. Dia meminta tolong untuk difotokan di depan patung Mulan. Setelahnya, dia mengajak kami untuk berjalan bersama sekaligus simbiosis foto (saling ganti-gantian memfoto). Lambat laun, kami pun berkenalan. Wanita ini berasal dari Vietnam dan sedang berlibur di Singapore seorang diri. Untuk namanya, saya lupa siapa. Kami pun berjalan-jalan mengitari Chinese Garden hingga ke Japanese Garden.

Sesuai jadwal, jam 10 pun kami harus kembali ke hostel untuk mengambil koper dan bergegas pergi ke bandara. Kami pun pamit kepada turis Vietnam tersebut. Petualangan kami di Singapore pun ditutup hingga di tempat ini.

Picture20

Mbak turis Vietnam

Kehilangan Immigration Card

Kami tiba di Changi International Airport pukul 12 siang. Saya pikir loket penukaran boarding pass telah dibuka ternyata belum. Akhirnya kami menunggu hingga loket dibuka, yakni sekitar jam setengah dua.

Setelah menukarkan boarding pass, kami makan siang sejenak di bandara. Baru setelahnya, saat mendebarkan pun tiba, yaitu melewati pemeriksaan imigrasi. Perasaan saya masih tenang sampai pada akhirnya si petugas imigrasi meminta kartu imigrasi saya—formulir yang diberikan pramugari saat kita di dalam pesawat pemberangkatan (baca post Advice from writer (part 1) poin 7). Dan ternyataaaaa….hilang. Oh my God! Stay cool? Pastinya. Tapi hati menjerit-jerit. Akhirnya, saya disuruh untuk mengikuti petugas imigrasi yang lain. Dia membawa saya ke loket terpisah. Saya pikir saya akan didenda, kena hukuman, atau hal menyeramkan lainnya. Ternyata, saya cuma disuruh mengisi ulang kartu imigrasi, lalu paspor saya dicap dan dapat melenggang masuk tanpa pengawasan lagi. Kirain gitu ya! Namun setelah saya buka-buka tas, ternyata kartu imigrasi saya terselip di dompet paspor. Gubraakkk.

Dan sensor petugas pun berbunyi

Entah mengapa, pengawasan saat pulang lebih ketat dibandingkan saat berangkat. Ketika ransel saya di-scan, tiba-tiba saja sensor berbunyi. Petugas pemeriksa menyuruh saya untuk membuka tas. Sama seperti saya, tas Anas pun disuruh dibuka. Digeledahlah tas kami berdua. Deg-degan? Stay cool tapi hati menjerit karena kami memang tidak membawa hal yang macam-macam. Dan sepertinya hand body milik saya menjadi penyebab sensor itu berbunyi. Kata teman saya, sensor akan berbunyi ketika menemukan benda cair yang ukurannya lebih dari 10 ml.

Lain halnya dengan Anas. Sensor berbunyi karena dia lupa menghabiskan air di botol minumnya. Akhirnya petugas pemeriksaan pun menyuruh dia untuk menghabiskan air minumnya. Anas meminta bantuan saya untuk menghabiskan air tersebut. Mana masih setengah pula. Setelah benar-benar beres, kami pun diizinkan masuk gate dan menunggu hingga naik ke pesawat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s