Thailand 2014: Sawadikha, Bangkok!

OPENING

Ada tiket promo pesawat ke luar negeri? Tentu saja hal ini tidak disia-siakan saya yang memang suka traveling. Bangkok, Thailand, itulah destinasi saya kali ini. Negerinya Nickhun 2PM ini memang membuat saya penasaran. Selain tempat-tempat bersejarahnya, Thailand juga dikenal sebagai surganya untuk berbelanja.

Saya tidak berangkat sendirian. Ada 3 teman saya yang ikut pergi juga, yakni Anas, Eta, dan Nita. Berhubung kami memesan tiketnya berbeda waktu, alhasil saya dan Anas berangkat menggunakan penerbangan pagi sedangkan Eta dan Nita menggunakan penerbangan sore.

Sama seperti pengalaman saya ke Singapore tahun lalu, kami tetap tidak menggunakan jasa travel agent. Kami meng-arrange itinerary sendiri. Empat hari tiga malam dirasa cukup untuk berlibur di Bangkok.

Tanggal 18 Januari 2014, kami pun terbang ke Thailand.

Picture28

FIRST DAY

Hujan dan demo

Jujur, sehari sebelum hari keberangkatan saya galau berat. Pertama, cuaca di Jakarta masih digelayuti langit mendung dan hujan yang terus turun tiada henti. Kedua, saya memang sudah mendapatkan kabar jika Bangkok sedang dalam kondisi tidak baik dari jauh hari. Ditambah lagi, sehari sebelum saya berangkat, saya membaca artikel jika ada bom meledak lagi di Bangkok. Makin was-waslah saya. Headline Bangkok Shut Down menghiasi beberapa artikel yang saya baca. Meski demikian, hati saya tetap mantap untuk tidak membatalkan traveling kali ini walau dalam kondisi seperti itu. Secara, sudah hampir 8 bulan saya menunggu liburan kali ini. Karena tidak adanya travel warning dari KBRI Thailand, saya tetap mantap untuk terbang ke Bangkok.

Penerbangan saya yang semula dijadwalkan take off pukul 8 pagi, dimajukan menjadi pukul 7 pagi. Otomatis saya harus tiba lebih awal di bandara. Dengan hujan yang terus turun serta genangan air yang mewarnai sepanjang jalan di Jakarta, saya tetap berangkat sesuai jadwal. Pukul setengah lima pagi, saya tiba di bandara Soetta terminal 3 dengan menggunakan bus Damri pemberangkatan dari Gambir. Maskapai yang saya pakai kali ini adalah Tiger-Mandala Air yang bertempat di terminal 3. Setelah Anas datang setengah jam kemudian, kami pun bergegas check in dan tidak lupa shalat subuh dulu.

Picture27

Mendung bikin galau


I’ve got sunshine in Bangkok

Mendung terus menggelayuti langit Jakarta dan sekitarnya sampai kami tiba di dalam pesawat. Meski tidak turun hujan tetapi cuaca sendu tetap menerawangi kami hingga take off pukul 7 pagi. Turbulensi pun terus terjadi saat berada di dalam pesawat, mengingat kami terbang dalam cuaca yang kurang baik.

Perjalanan Jakarta-Bangkok memakan waktu setidaknya 3,5 jam. Sesampainya kami di Bandara Suvarnabhumi, kami disambut oleh terpaan sinar matahari yang menerangi seisi Bangkok. Tak ada mendung apalagi hujan. Cuaca Bangkok sangat bersahabat.

Setelah selesai urusan imigrasi, saya dan Anas berencana membeli provider Thailand untuk komunikasi dengan Nita dan Eta. Sebelumnya saya pernah searching di internet jika provider untuk para traveler bernama AIS. Dengan membayar 299 bath, kami akan dapat internetan selama 7 hari dengan kuota 1 GB. Sesampainya di gerai AIS yang terletak di lantai 2, saya dan Anas memutuskan untuk memilih paket lain, yakni paket internetan selama 7 hari dengan kuota 300 MB seharga 150 bath. Lebih murah dari yang paket 1 GB karena kami berpikir untuk menghemat cost. Perbedaannya selain di kuota, paket yang 150 bath ini tidak dapat SMS atau telepon. Tapi karena kami lebih butuh untuk ber-whatsApp-ria, kami lebih memilih paket 150 bath. Setelah selesai membeli provider dan mengaktifkannya, kami bergegas pergi ke food court bandara yang letaknya di lantai 1 bandara.

2014-01-18 11.31.42

Gerai AIS di bandara Suvarnabhumi

Food court bandara memiliki sistem pembayaran yang unik. Kita disuruh untuk membeli kupon kelipatan 5 bath untuk ditukarkan dengan makanan. Jadi ketika memesan makanan, kita tidak perlu mengeluarkan uang. Tinggal membayarnya pakai kupon yang telah kita tukar di kasir depan.

Sebagai contoh, saya menukarkan 100 bath dengan kupon senilai yang sama. Setelah saya membeli makanan dan minuman, ternyata masih ada sisa kupon senilai 40 bath. Sehabis makan, saya me-refund kembali kupon itu dengan uang. Dengan catatan, kita dapat me-refund uang pada hari yang sama.

IMG-20140118-WA0005

Food court di bandara


ARL vs MRT

Setelah mengisi perut, kami bergegas menuju hostel kami. Untuk menjangkaunya, saya dan Anas menggunakan model transportasi Airport Rail Link (ARL). Keuntungan mendarat di Bandara Suvarnabhumi salah satunya adalah gampang menjangkau transportasi seperti ini. Suvarnabhumi Airport Station terletak di lantai basement.

Dari Suvarnabhumi Airport Station, kami akan turun di Makasan Station untuk menyambung naik MRT di Phetchaburi Station. Sekadar info, ARL dan MRT itu berbeda merk. Jadi seturunnya dari ARL, kami harus membeli tiket lagi untuk naik MRT. Lalu apa perbedaannya? ARL itu hanya ada satu jalur, yakni dari Suvarnabhumi – Phaya Thai dan sebaliknya. Transportasi ini memang dikhususkan untuk para penumpang yang ingin ke bandara. Jalur ARL terletak di atas jalan dengan pilar-pilar penyanggah, sistem yang sama dengan MRT yang dibangun di Jakarta. Sedangkan MRT Bangkok jalurnya berada di bawah tanah, sama seperti MRT Singapore.

Setelah kami tiba di Makasan Station, kami harus berjalan kaki untuk menggapai Phetchaburi Station yang letaknya tidak begitu jauh karena sudah terhubung dengan skybridge dan sudah dirancang untuk saling berdekatan. Dengan petunjuk yang melimpah, kami tidak kesulitan untuk menggapai Phetchaburi Station.

2014-01-18 12.59.55


De Talak Hostel

Dari Phetchaburi Station, kami menuju Queen Sirikit Station, tempat di mana penginapan kami berada, yakni De Talak Hostel. Dengan petunjuk yang kami dapat, kami tak sulit menemukan De Talak Hostel meski lokasi hostel kami tak terletak di pinggir jalan.

Sesampainya di De Talak Hostel, kami segera check in dan membayar uang sewa selama tiga malam. Kami membooking De Talak Hostel melalui booking.com dan tidak perlu uang DP tetapi harus memasukan kartu kredit sebagai penalty 5% jika kami batal booking. Kami mengambil kamar untuk berempat. Dengan tiga malam, kami hanya membayar 3600 bath sehingga masing-masing mengeluarkan uang 900 bath. Namun kami harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 100 bath sebagai security deposit yang nantinya akan dikembalikan setelah kami check out.

Fasilitas De Talak Hostel cukup bagus. Kamar kami terletak di lantai 3. Dengan empat tempat tidur, televisi yang dilengkapi satelit, serta kamar mandi dalam, menurut kami sudah cukup nyaman. Selain itu, De Talak Hostel juga menyediakan ruang makan, pantry, serta es krim kelapa gratis di dapur bagi para tamu hostel.


Gaptek tiada henti

Setelah selesai istirahat sejenak, solat, beres-beres, dan mandi, saya dan Anas memulai destinasi pertama kita, yaitu mengunjungi Jim Thompson House. Dari hostel, kami naik MRT di Queen Sirikit Station, lalu turun di Silom Station untuk menyambung naik BTS (Bangkok Train Station) di Sala Daeng Station. Sama halnya dengan ARL, BTS itu berbeda merek juga dari MRT. Jadi, saya harus belik tiket lagi.

Berbicara mengenai Silom Station, saya langsung teringat dengan narasumber yang saya follow di Twitter mengenai daerah-daerah demo di Bangkok, salah satunya adalah area Silom. Saya dan Anas sudah bersiap-siap dan berjaga-jaga karena akan melewati daerah demo. Setibanya di Silom Station, kami malah terperangah menemukan keadaan yang jauh berbeda dengan bayangan kami. Tidak ada kumpulan orang yang membawa-bawa spanduk atau membakar ban seperti demo di Indonesia. Yang ada hanyalah pasar kaget di sepanjang jalan. Ya, pasar kaget yang menjual kaos, tas, pernak-pernik, dan jajanan. Sempat terkesima juga dengan demo orang-orang Thailand.

IMG_8290

Dari Silom Station, kami menuju Sala Daeng Station yang memang letaknya tak jauh dan telah dihubungi oleh skybridge. Akhirnya kami akan menjajal transportasi BTS setelahnya kami baru merasakan ARL dan MRT. Jalur BTS sama seperti ARL, yakni di atas dan bukan di bawah tanah.

Terjadi kekocakan saat saya dan Anas membeli tiket BTS. Ketika kami membeli tiket ARL dan MRT, kami hanya tinggal menyebutkan stasiun tujuan serta uang tiket, lalu petugasnya akan memberikan sebuah koin untuk tap in di gate. Berbeda dengan BTS. Ketika saya menyebutkan stasiun tujuan, jumlah tiket, dan menyerahkan selembar uang 100 bath, petugasnya malah memberikan balik uang 100 bath yang telah dipecah menjadi recehan 10 bath. Saya dan Anas sempat ling-lung karena tidak menerima koin untuk tap in di gate seperti yang kami terima saat naik ARL atau MRT. Hampir lima menit kami mencerna maksudnya sampai pada akhirnya kami pun mengerti. Uang-uang recehan itu harus kami masukan ke ticket machine untuk ditukar dengan tiket BTS. Jadi intinya serve your self gitu.

Setelah tahu berapa ongkosnya, kami memasukan uang recehan sesuai ongkos tujuan, lalu keluarlah tiket BTS yang bentuknya seperti kartu nama dan bukan koin seperti tiket ARL dan MRT. Setelah memegang tiket BTS, tibalah waktu untuk tap in di gate. Lagi-lagi terjadi kekocakan di sana. Tidak ada tanda untuk tap in, yang ada hanyalah lubang lurus untuk memasukan kartu. Saya bingung dan cemas, jika kartunya saya masukan ke lubang ini, takutnya malah tidak keluar lagi dan nanti bagaimana saya harus tap out.

Untungnya ada penduduk lokal yang menjelaskan jika tiket itu memang harus dimasukan ke lubang itu, lalu di atasnya terdapat lubang lagi untuk jalan keluar kartu itu. Benar saja, ketika saya memasukan kartu itu ke lubang lurus, secara otomatis kartu itu keluar dari lubang lainnya yang berada di atas gate. Ketika saya ambil kartu, pintu gate pun terbuka. Ya ampun, malunya saya dan Anas.

Daerah demo lagi

Untuk menuju Jim Thompson House, kami naik BTS dari Sala Daeng Station sampai National Stadium Station. Sesampainya di National Stadium Station, lagi-lagi kami harus melewati daerah demo. Tidak berbeda jauh dari Silom, demo-demo di daerah National Stadium juga membuka pasar kaget di sepanjang jalan. Mata saya dan Anas malah tergoda dengan barang-barang dan jajanan yang dijual. Tapi kami ingat dengan destinasi pertama kami.

Dari National Stadium kami harus berjalanan ke arah kiri, menyusuri pasar-pasar demo hingga tiba di Soi Kasem San 2, lalu belok ke kanan. Kami terus menyusuri jalanan itu meski dengan banyak penjagaan, mengingat ini daerah demo. Sampai kami tiba di Jim Thompson House. FYI, ada transportasi gratis dari depan Soi Kasem San 2 hingga ke Jim Thompson House, yakni mobil yang sering berada di lapangan golf. Karena saat kami tiba tidak ada mobilnya, saya dan Anas memutuskan untuk jalan ke dalam.


Jim Thompson House

Kami membeli tiket masuk yang letaknya dekat dengan gerbang depan. Yang lebih menarik lagi, saya dan Anas mendapatkan diskon tiket masuk Jim Thompson House yang awalnya senilai 100 bath menjadi 50 bath. Kenapa demikian? Karena ada diskon spesial 50% bagi para pelajar, mahasiswa, dan pengunjung dengan usia di bawah 25 tahun. Dengan menunjukan paspor, saya dan Anas hanya membayar 50 bath untuk tiket masuk. Lumayan boo!

Setelah kami membeli tiket, kami diantar salah satu karyawati di sana untuk mendapatkan tour guide. Kami menunggu sekiranya lima menit sambil foto-foto sampai tour guide kami pun datang. Saya memilih tour guide yang able speak in English karena tentu saja saya tidak mengerti bahasa asing lainnya. Dengan rombongan yang sekiranya berjumlah delapan orang dan mayoritas orang-orang bule, saya, Anas, dan tour guide itu mulai mengelilingi Jim Thompson House.

Singkat sejarah yang saya ketahui, Jim Thompson merupakan warga Amrik yang menetap di Thailand karena cinta dengan kebudayaannya. Namun dalam perjalanannya ke Malaysia, Jim Thompson dikabarkan hilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.

Sayangnya, saya tidak dapat mengabadikan momen di dalam rumah Jim Thompson karena dilarang menggunakan kamera serta mengambil gambar. Akhirnya kami memutuskan untuk foto-foto dari luar saja.

 

Nasionalisme warga Thailand

Dari Jim Thompson House, kami berencana singgah di MBK Center untuk sekadar jalan-jalan. Kami memutuskan untuk jalan kaki hingga ke MBK Center karena jaraknya tak terlalu jauh dari Jim Thompson House. Sepanjang jalan menuju MBK Center, mata saya dan Anas tak henti-hentinya ngiler ngelihat jajanan yang dijual di jalan. Namun saya ingat jika makanan halal di Bangkok memang agak susah sehingga saya mengurungkan niat untuk membeli jajanan sosis dan berbau daging.

2014-01-18 17.08.27

kue pancong ala Thailand

Sesampainya di MBK Center, tepatnya di perempatan MBK, saya dan Anas disambut oleh para pendemo yang berkumpul dan menutup jalan di depan perempatan MBK. Demonya lebih ramai dari yang pernah saya lihat. Ada panggung di tengah jalan sambil ada orang yang terus nyerocos ngomong. Sesekali para pendemo mengelu-elukan sambil meniup peluit. Entah apa maksudnya. Namun suasana seperti ini malah bukan seperti demo tapi seperti nobar Fifa World Cup.

S5000717

Ketika kami berjalan menuju pintu masuk MBK, tiba-tiba para pendemo dan warga Bangkok yang tadinya duduk-duduk santai dan berjalan, mendadak berdiri, bangkit, dan terdiam. Saya dan Anas cukup terkejut. Tak lama kemudian, terdengar lagu kebangsaan Thailand mengalun dari speaker yang tergantung di sekitar situ. Sejenak para warga Bangkok diam sambil berdiri. Saya dan Anas juga mendadak stiff tak bergerak juga. Baru setelah lagu kebangsaan Thailand selesai diputar, para warga kembali duduk dan berjalan. Cukup takjub juga saya dan Anas melihat keadaan barusan. Rupanya setiap hari, lagu kebangsaan Thailand diputar setiap jam 8 pagi dan 6 sore. Ketika lagu diputar, para warga yang sedang melakukan suatu aktivitas mendadak menghentikan segala aktivitasnya untuk sekadar berdiri terdiam sembari mendengarkan lagu kebangsaan negaranya. Saya sangat iri dengan rasa nasionalisme warga Thailand. Andai saja warga Indonesia dididik seperti ini juga.


MBK Center

Rencananya kami mau makan malam di MBK Center. Menurut info yang saya dapat, terdapat food court makanan halal di MBK Center lantai 5. Saya dan Anas bergegas ke tempat tersebut. Sesampainya di sana, ternyata makanannya cukup mahal. Kami pun tidak jadi makan di sana dan memutuskan untuk makan di McD saja. Ketika tiba di McD, selain keadaannya yang cukup ramai, rupanya paket McD Thailand tidak ada yang menggunakan nasi dan ayam. Selain itu pula, harganya cukup mahal dan melenceng dari cost makan kami. Akhirnya saya dan Anas memutuskan membeli makanan di sekitar lokasi demo.

Saya membeli nasi dan telur dadar seharga 20 bath sedangkan Anas membeli daging dan ketan. Saya dan Anas cukup heran dengan makanan yang Anas beli. Sejak kapan daging disandangkan dengan ketan putih. Namun ketan di sini bukan kelapa serut namun ketan yang menyerupai nasi.

Setelah membeli makanan, kami memutuskan untuk menyantap makanan kami sambil duduk-duduk di pinggiran jalan depan MBK sembari nonton orang demo. Ini baru yang namanya backpacker, pikir saya. Ha ha ha.


Terminal 21 Mall

Dari MBK Center, kami naik BTS dari National Stadium dan transit di Siam untuk melanjutkan hingga ke Asok. Lagi-lagi, kami akan mendatangi daerah demo. Perempatan Asok menjadi salah satu dari tujuh tempat demo di Bangkok yang telah saya catat, setelah Silom dan perempatan MBK. Lagi-lagi keadaannya sama. Ada pasar kaget di sana.

Tujuan kami mengunjungi Terminal 21 Mall bukan untuk belanja tapi untuk foto-foto, mengingat mall ini memiliki desain yang unik di setiap lantainya. Ada yang desain seperti di Paris, lalu di Tokyo, berlanjut ke London, Istanbul, dan San Francisco.

 

Menunggu Nita dan Eta

Kami memutuskan pulang sekelarnya foto-foto di Terminal 21 Mall. Dari situ, kami naik MRT di Sukhumvit sampai ke Queen Sirikit. FYI, perempatan Asok memiliki stasiun BTS Asok dan stasiun MRT Sukhumvit.

Sesampainya di De Talak Hostel, kami duduk-duduk sejenak di ruang makan sembari mencicipi es krim kelapa yang disediakan pihak hostel di lemari es. Di situ juga kami bertemu rombongan cewek-cewek berjilbab. Setelah berkenalan, rupanya mereka berasal dari Yogyakarta. Agak senang juga bertemu teman setanah air.

Setibanya di kamar, saya langsung mandi dan solat. Entah mengapa baru hari pertama tubuh saya sudah lelah luar biasa. Tak disengaja saya tertidur sebelum Nita dan Eta datang. Tepat jam 10 malam, Anas membangunkan saya karena Nita dan Eta sudah tiba di depan resepsionis hostel. Begitu kami berencana menjemputnya ke bawah, eh mereka sudah tiba di depan pintu kamar. Tidur saya pun dilanjutkan hingga besok pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s