Thailand 2014: Shopping is a must

SECOND DAY

Bangkok seperti Puncak

Jadwal bangun kami adalah pukul setengah lima pagi. Eta sudah bangun lebih dulu. Ia bergegas mandi dan juga solat. Saya, Nita, dan Anas lebih memilih bergelut di balik selimut sampai pada akhirnya Eta mengobrak-abrik pertahanan kami. Saya menjadi orang kedua yang bangun, disusul dengan Anas, lalu Nita yang paling akhir.

Setelah mandi, kami turun ke ruang makan untuk sarapan. Kebetulan kami membawa mie instan sehingga kami memutuskan untuk sarapan mie saja. Suasana ruang makan masih sepi. Rupanya mie instan dan segelas teh manis hangat cukup menampung perut saya. Tepat jam 8 pagi, kami pun mulai keluar hostel dan memulai destinasi hari ini.

Sekeluarnya dari hostel, kami berempat disambar oleh hawa dingin Bangkok di pagi hari. Saya menyesal tidak membawa jaket karena saya pikir hawa Bangkok seperti Jakarta. Rupanya cukup dingin juga seperti Puncak. Kami sempat menggigil ketika ada angin bertiup. Jika diukur suhu pagi Bangkok sekitar 20 derajat Celcius. Lalu saya teringat jika Thailand memiliki 3 musim; musim dingin, musim panas, dan musim hujan. Musim dingin memang jatuh di Januari tapi saya tidak mengira dinginnya Bangkok itu seperti Puncak. Brrr.

Erawan Shrine

Destinasi pertama kami adalah mengunjungi Erawan Shrine atau patung Budha bermuka empat. Dari Queen Sirikit, kami naik MRT hingga ke Silom, sama seperti arah kemarin. Dari Silom, kami menuju Sala Daeng Station untuk naik BTS hingga ke Ratchadamri. Sekeluarnya dari Ratchadamri Station, kami harus berjalan kaki hingga ke Erawan Shrine yang terletak di perempatan Siam.

Rupanya Erawan Shrine itu sebuah tempat terbuka untuk berdoanya orang-orang Thailand. Bau dupa langsung menyerang indera penciuman kami setibanya di sana. Sebenarnya kami ke sana atas permintaan Anas yang katanya mau berdoa. Tapi setelah sampai sana, kami malah foto-foto. Anas lupa dengan doanya.

S5000751

Madame Tussauds

Setelah dari Erawan Shrine, kami berjalan kaki hingga ke Siam Discovery. Tujuan kami selanjutnya adalah Madame Tussauds, museum yang memajang patung-patung orang terkenal sedunia. Katanya lagi, ada patung Presiden Soekarno di sana. Madame Tussauds terletak di Siam Discovery lantai 6. Sembari menunggu Siam Discovery buka, kami berempat pun duduk-duduk di sekitar situ sembari melihat-lihat area demo depan Siam. Rupanya area Siam juga tak luput menjadi lokasi demo. Karena masih pagi, pasar kaget di sekitar Siam masih banyak yang tutup.

Ketika kami sedang duduk-duduk, tiba-tiba jalanan depan Siam Discovery dilewati oleh serombongan warga yang menggoes sepeda. Saya pikir ada lomba sepeda santai namun rupanya rombongan warga bersepeda itu adalah para pendemo. Saya makin terkesima dengan para pendemo di sini. Cara demo mereka tetap positif, salah satunya menggelar aksi sepeda santai.

S5000759

 

Pukul 10 pagi, Siam Discovery pun dibuka. Kami bergegas naik lift menuju lantai 6. Sebelumnya kami telah membeli tiket online untuk Madame Tussauds. Karena kami membeli tiket early bird, lalu datang sebelum jam 12 siang, kami mendapatkan setengah harga tiket. Yang sebelumnya senilai 800 bath menjadi 480 bath. Lumayan banget.

Tiba di Madame Tussauds, kamera saya mulai dipergunakan. Di setiap patung yang saya kenal, saya langsung jepret kanan dan jepret kiri. Mumpung belum banyak orang, saya buru-buru saja foto sana foto sini. Habisnya kalau ramai, nanti susah untuk berfoto.

Picture1

In Madame Tussauds

Shopping Time!

Hari kedua memang kami rancang khusus untuk berbelanja. Belajar dari pengalaman saya dan Anas ke Singapore dulu yang menggabungkan shopping time di Chinatown dengan mengunjungi Merlion. Alhasil, kami foto-foto di Merlion sambil membawa belanjaan. Nggak bagus banget gitu.

Chatuchak Weekend Market, itulah destinasi belanja pertama kami. Dari Siam Discovery, kami naik BTS di Siam Station dengan tujuan Mochit Station. Sesuai dengan dugaan saya, Chatuchak Market memang sangat luas. Kami memutuskan untuk tetap bersama dan tidak berpencar karena takut susah ketemunya. Benar saja, mata kami langsung kalap begitu melihat dompet, gantungan kunci, dan tas-tas lucu. Namanya juga cewek. Hehehe.

Setelah lelah berkeliling, kami ingin makan siang serta solat. Menurut info yang saya dapat juga, di Chatuchak ada mushola dan penjual makanan halal. Tempat yang kami maksud itu berada di Section 18 soi 26. Setengah mati kami mencari mushola tersebut dan untung sekali ada Eta yang gapai baca peta sehingga kami tiba di tempat tersebut. Mushola di Chatuchak ini tidak begitu besar namun dapat menampung empat jamaah cewek. Mushola ini terletak di antara kios-kios di Chatuchak. Di sebelah mushola, terdapat tempat makanan halal. Cukup lega juga buat kami menemukan tempat seperti itu dipadatnya hiruk pikuk Chatuchak.

Kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu, lalu menjamak solat Dzuhur dan Ashar. Cukup dengan beristirahat di situ, tenaga kami pun terisi kembali. Saya pikir setelah makan dapat langsung pulang. Rupanya Anas dan Eta malah memilih untuk berbelanja lagi. Tentu saja saya ikutan juga. Hihihi.

Saat rehat sejenak, saya iseng buka Twitter dan dapat kabar jika ada bom meledak lagi di Victory Monument. Saya sempat was-was karena nanti kami akan melewati daerah itu. Namun ketika BTS kami melewati Victory Monument Station, tidak ada tanda-tanda bekas bom meledak di sana.

Picture2

Barulah setelah itu, kami bergegas hengkang dari Chatuchak, lalu menuju Pratunam Night Market. Dari Chatuchak Market, kami naik BTS dari Mochit Station menuju Phaya Thai Station, lalu menyambung naik ARL menuju Ratchaprarop Station. Dari Ratchaprarop Station, kami memilih berjalan kaki sampai ke Pratunam Night Market yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Di Pratunam, kami mengkhususkan untuk membeli baju setelah tahu harga baju di Chatuchak lebih mahal. Meski pada awalnya kami menemukan kios-kios baju yang menjual dengan harga yang tidak jauh berbeda dari Chatuchak, akhirnya kami menemukan kaos dengan harga yang cukup miring.

Running Man at Big C

Tanpa terasa tangan kami sudah penuh dengan belanjaan. Namun rupanya, waktu berbelanja kami masih terus bergilir. Kami berencana menyambangi Big C untuk membeli Nestea Milk Tea khas Thailand yang katanya enak. Dari Pratunam, kami berjalan kaki hingga ke Big C. Lagi-lagi kami harus melewati daerah demo. Namun entah mengapa daerah demo depan Big C lebih menyeramkan. Sekelompok pria bertopeng menyambut kami dengan sebuah senter. Tas kami disuruh dibuka untuk dilihat dalamnya meski tidak sampai digeledah. Rupanya hanya dilihat dan disorot senter saja.

Sesampainya di Big C, kami dikabarkan bahwa setengah jam lagi Big C akan tutup. Buru-burulah kami berbelanja. Tanpa pikir panjang, kami langsung bertanya di mana area yang menjual Nestea khas Thailand. Cukup banyak juga kami membeli. Anas dan Nita tidak kalah kalap. Selain membeli Nestea, mereka membeli snack lainnya. Kalau di Indonesia, Big C itu setipe Giant, Hypermart, atau Carrefour.

Benar saja, setelah kami membayar barang belanjaan kami, kami bergegas keluar dari Big C dan langsunglah pintu gerbang Big C tertutup. Ternyata jam tutup Big C itu pukul 8 malam. Benar-benar seperti ikutan game di Running Man.

Rencana kami dari Big C adalah pulang ke hostel dengan menggunakan taksi. Mengingat jalanan depan Big C dipakai oleh para pendemo, kami pun harus berjalan hingga ke perempatan Phetchaburi, tepatnya lagi di depan Pratunam Center. Dari situ kami naik taksi.

Awalnya mau pakai argo tapi si supir taksinya bilang kalau hostel kami cukup jauh sehingga ia menembak dengan harga 150 bath. Karena kami kelelahan, akhirnya kami pun setuju.

Sesampainya di hotel, kami tepar tiada tara. Sudah tak berniat pergi kemana-mana lagi meski sebenarnya kami berencana pergi ke Klong Tei Market dekat hostel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s