Thailand 2014: Must-visit place in Bangkok

THIRD DAY

Wat Tour

Hari ketiga kami memutuskan untuk mencari sarapan di luar. Jam 7 pun kami sudah keluar hostel. Kami memilih membeli sarapan di 7-11 dekat hostel. Namun rupanya 7-11 di Bangkok tidak seperti di Jakarta yang menyediakan tempat duduk untuk nongkrongnya para pengunjung. Padahal makanan sudah ditangan tetapi kami tidak menemukan tempat untuk makan. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa makanan tersebut hingga menemukan tempat untuk makan.

Setelah dari 7-11, kami dihadapkan oleh ritual para warga Thailand, yakni menyanyikan lagu kebangsaan. Mengingat sekarang pukul 8 pagi sehingga ritual pun dijalankan. Kami berempat ikut menghormati dengan cara berdiri sejenak tanpa melakukan aktivitas apapun.

Akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke Wat Tour, siapa tahu di sana menemukan taman untuk sekadar makan. Dari situ, kami naik MRT di Queen Sirikit Station dan turun di Silom Station. Rupanya di Silom, kami menemukan tempat untuk menyantap sarapan kami. Masa bodoh deh dilihatin orang-orang, yang penting nggak lapar lagi.

Picture8

Ngampar tapi tetap kece

Dari Silom, kami naik BTS di Sala Daeng Station hingga ke Saphan Taksin Station. Sesampainya di Saphan Taksin Station, kami berjalan hingga ke Central Pier, dermaga pusat yang mengangkut kami untuk naik Chao Phraya Boat. Dari Central Pier, kami naik boat dengan bendera oranye. Mengapa kami naik boat dengan bendera oranye, itu karena harganya cukup murah, datangnya sering, dermaga tempat pemberhentiannya lebih banyak, serta kapalnya cukup nyaman. Dengan ongkos 15 bath sekali jalan, kami siap menyusuri Chao Phraya River. Ongkos boat dibayar di atas alias tidak beli di loket.

Picture7

Chao Phraya River

Wat Pho

Dari Central Pier, kami akan turun di Tha Tien Pier, tempat wisata Wat Tour berada. Di seberang Tha Tien Pier terdapat Wat Arun. Sebenarnya kami awalnya mau ke Wat Arun tapi saya membaca artikel di hostel kalau Wat Arun sedang ditutup sementara mulai Oktober 2013 karena sedang direnovasi sehingga kami dapat melihat Wat Arun dari seberang saja.

Picture9

di seberang Wat Arun

Dari Tha Tien Pier, kami berjalan kaki hingga ke Wat Pho. Sesampainya di Wat Pho, kami membeli tiket masuk sebesar 100 bath. Tiket tersebut sudah termasuk air mineral gratis dan harus ditukarkan di stan air mineral yang tersedia.

Kami langsung memasuki galeri yang memamerkan patung Budha tidur. Tidak lupa, alas kaki harus dilepas terlebih dahulu. Saya cukup terkesiap juga melihat patung Budha raksasa dengan warna keemasan. Meski foto di depan patung Budha tidur itu cukup mengantre alias gantian, tapi untung saya dapat foto di depannya.

 

Grand Palace

Destinasi selanjutnya adalah Grand Palace. Dari Wat Pho, kami berjalan kaki ke Grand Palace. Letak sebenarnya, Wat Pho berada di belakang Grand Palace persis. Kedengarannya dekat tetapi kami harus berjalan mengitari pinggiran Grand Palace yang rupanya cukup jauh.

Sesampainya di sana, ada petugas yang menyambut kami dan menanyakan apakah kami adalah turis lokal atau turis asing. Karena sepertinya, harga tiket masuknya berbeda. Untuk turis asing seperti kami, tiket masuknya seharga 500 bath. Ketika kami memasuki gerbang masuk, ada banyak petugas yang mengawasi pakaian para pengunjung. Bila pakaiannya terlalu seksi, pengunjung disuruh menyewa kain untuk menutupi. Maka dari itu, lebih baik memakai celana panjang sama kaus saja jika ke Grand Palace. Tapi ingat, jangan terlalu ketat juga.

Picture15

Komplek Grand Palace memang sangat luas. Banyak candi-candi beraneka ragam serta istana-istana yang nilai artistiknya cukup memukau di sana. Namun sayangnya, ketika kami memasuki museum-museum yang terdapat di dalam candi dan istana, kami tidak diperbolehkan mengambil gambar.

Sekadar info, di sekitar Amarindra Winitchai Hall, dijual susu segar untuk pelepas dahaga para turis yang kelelahan. Hanya 10 bath saja, kalian dapat memilih susu sesuai rasa favorit kalian.

Sanam Luang

Pukul empat sore, kami memutuskan untuk menyelesaikan tur Grand Palace. Sehabis dari situ, kami berencana pergi ke Khaosan Road karena penasaran dengan daerah tersebut. Sekalian mau cari oleh-oleh, siapa tahu ada yang lebih murah di sana.

Dari Grand Palace, awalnya kami ingin naik bus atau tuk-tuk tetapi setelah melihat peta, sepertinya jarak Grand Palace tidak terlalu jauh ke Khaosan Road. Akhirnya, kami memutuskan berjalan kaki sembari mengitari Sanam Luang, taman luas yang terletak di depan Grand Palace.

Sanam Luang cukup nyaman jika ingin istirahat serta foto-foto sejenak. Saya tetap berharap jika di Jakarta ada taman seperti Sanam Luang.

Picture24Picture23Picture21Picture22

 

Khaosan Road

Rupanya analisis kami agak meleset juga. Jarak dari Grand Palace ke Khaosan Road ternyata cukup jauh tetapi untungnya kami tidak nyasar karena Eta gapai baca peta, tidak seperti kejadian saya dan Anas saat berjalan kaki dari Chinatown ke Merlion Park di Singapore dulu yang sampai nyasar.

Kami tiba di Khaosan Road dengan perut lapar dan kaki pegal. Setelah memilah-milah tempat makan dan menganalisis kadar kehalalan serta harganya, kami memutuskan untuk makan di warung pinggir jalan saja. Menunya seperti yang saya makan di depan MBK Center, yakni nasi dan telur dadar. Menu aman.

Setelah makan, kami mencari tempat solat. Karena setelah saya browsing internet, ada masjid di sekitar Khaosan Road. Kami berputar-putar, menelusup ke gang-gang kecil, hingga tembus ke jalan besar, kami tetap tidak menemukan masjid tersebut. Hampir frustasi sampai bertanya kepada orang-orang dan ternyata mereka tidak tahu apa itu masjid.

Akhirnya setelah entah berjalan kaki sepanjang berapa kilometer, kami menemukan sebuah plang bertuliskan mosque dan ternyata masjidnya masuk ke gang super duper kecil. Plangnya pun ketutupan dinding sehingga tidak terlihat oleh kami. ketika kami menelusuri gang kecil tersebut, nafas kami langsung terhela lega begitu menemukan sebuah masjid cukup besar di dalamnya. Langsung, kami duduk selonjoran sambil berkipas-kipas. Kaki sudah terasa nyut-nyutan.

Setelah menjamak qoshor solat dzuhur dan ashar, kami kembali berjalan. Dan barulah, kami menikmati Khaosan Road sebenarnya. Jika menilik keadaan Khaosan Road dan Legian Kuta Bali, suasananya tidak jauh berbeda. Dipenuhi turis-turis bule yang duduk di resto dan bar di tepi jalan. Tapi sayangnya, saya tidak menjumpai makanan ekstrem yang dijual di Khaosan Road. Itu loh, serangga yang digoreng lalu dijadikan satai. Kami malah asyik melihat-lihat cenderamata dan akhirnya terjadilah shopping dadakan. Maklum, namanya juga cewek.

Nyasar?!

Wat Tour dan Khaosan Road sudah dicoret dari daftar itinerary. Selanjutnya, adalah Asiatique, yang katanya adalah tempat gaul oke di Bangkok. Letak Asiatique berada di tepi Sungai Chaopraya. Dari Khaosan Road, kami akan naik Chaopraya Boat bendera oranye. Kami tidak naik di dermaga saat kami turun tadi pagi. Kami naik dari Phra Arthit Pier hingga ke Central Pier. Dari Central Pier, kami akan naik free ferry yang disediakan khusus untuk ke Asiatique.

Entah karena kelelahan, lalu angin sepoi-sepoi tertiup sepanjang perjalanan, ditambah kami semua dapat tempat duduk, kami seperti dininabobokan dan konsentrasi kami ikut menurun. Ketika boat kami menepi di Oriental Pier, tiba-tiba Nita berdiri lalu menyuruh kami semua turun. Saking nge-blank dan dan agak mengantuk, saya mengiyakan dan kami berempat pun turun dari boat.

Selepas boat pergi, kami menemukan sesuatu yang janggal. Jeng-jeng, kami salah turun dermaga. Kecemasan hati kami perlahan timbul. Apakah boat kami tadi itu adalah boat terakhir? Tapi setelah membaca jadwal, Chaopraya boat ada sampai jam tujuh malam sedangkan jam telah menunjukan pukul setengah delapan. Oke, stay cool hati menjerit!

 

Namun entah mengapa, semenit terasa lama dan Chaopraya boat tidak muncul-muncul. Hati kami kembali deg-degan. Jika memang tidak ada boat lagi, mau tidak mau kami harus cari alteranatif terakhir, taksi.

Selang lima menit kemudian, dari kejauhan terdapat boat meluncur ke dermaga. Dengan bendera oranye yang berkibar, kami langsung bangkit berdiri. Kapalnya masih ada!!!

Tanpa pikir panjang, kami langsung loncat ke dalam boat meski belum berhenti sepenuhnya. Meski kernetnya sudah berteriak-teriak, seperti berbicara, ‘Tunggu dulu! Tunggu berhenti dulu!’.

Asiatique or shopping again?

Sesampainya di Central Pier, kami berempat sudah kelelahan dan tidak ada mood lagi untuk ke Asiatique. Setelah berdebatan alot dan menimang-nimang keadaan, akhirnya kami membatalkan ke Asiatique. Sebagai gantinya, kami akan kembali shopping. Kali ini bukan berbelanja di Pratunam atau Chatuchak, melainkan di daerah demo di sekitar Sala Daeng. Sebenarnya ini agenda saya dan Anas sejak pertama kali datang ke Bangkok. Area demo Bangkok yang unik harus dimanfaatkan oleh kami, apalagi jika area tersebut menjajakan barang dagangan.

Dari Central Pier, kami kembali naik BTS di Saphan Taksin Station, lalu turun di Sala Daeng Station. Sesampainya di Sala Daeng, kami langsung kalap kembali. Kalap belanja. Hahahaha. Tentengan semakin banyak dan kami tidak peduli.

Ketika sampai di penginapan, barulah kami sibuk packing. Mulai menumpuk-numpuk barang-barang agar muat dalam satu koper.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s