Pari Island Trip (2 days 1 night)

OPENING

Tidak ada habisnya jika membahas tentang jalan-jalannya Nekad Traveler. Kali ini saya tidak bertandang keluar negeri, melainkan jalan-jalan cantik di dalam negeri. Tempatnya juga tidak jauh-jauh. Seberang Jakarta saja alias Kepulauan Seribu.

Di Kepulauan Seribu banyak pulau yang terlalu sayang untuk tidak dieksplor. Mulai dari Pulau Tidung, Pulau Pramuka, Pulau Bira, Pulau Pari, dan pulau-pulau lainnya. Dari sekian banyak pulau, saya memilih Pulau Pari saja. Selain katanya lebih bagus dari Pulau Tidung, yang dengar-dengar sudah tidak sejernih dulu, tapi Pulau Pari lebih baik kejernihan airnya.

Jalan-jalan kali ini, partner in crime saya lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada Anas, teman jalan saya ke Singapore, ataupun Eta dan Nita, teman jalan saya ke Bangkok. Saya jalan dengan teman-teman kantor saya. Bersepuluh kami berangkat ke Pulau Pari. Dengan dipandu oleh satu tour guide yang tak lain adalah mantan teman kantor kami yang sudah resign dan memutuskan bekerja di travel agent, kami berlibur dua hari satu malam (7-8 Juni 2014) di Pulau Pari. So, let’s go and get lost!

FIRST DAY

Meeting point kali ini dicanangkan di Stasiun Kota, tempat yang dikiranya strategis dari tempat tinggal kami bersepuluh. Pukul enam, kami sudah harus sampai di Stasiun Kota sebelum kami berangkat ke Pelabuhan Angke.

Saya, Tia, Riska, dan Mba Reny, sebagai empat cewek kece di Grup Pari (saya akan menyebut partner in crime kali ini dengan sebutan itu) datang kedua paling awal setelah Miswar. Pak Indra, yang berumahkan di Bogor datang setelah kami dengan menggunakan KRL. Itu berarti, kami harus menunggu empat cowok sisanya yang berangkat dari daerah Jakarta Timur. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menunggu mereka berempat. Entah apa yang membuat mereka datang paling terlambat, melebih kami para cewek. Akhirnya, Aji, Ilham, Puntha, dan Toto datang seolah F4 yang bangun kesiangan.

Dari Stasiun Kota, kami memutuskan untuk menyewa angkot hingga ke Pelabuhan Angke. Dengan kemampuan negosiasi yang lihai, Aji berhasil mendapatkan satu angkot dengan biaya sewa yang tidak terlalu mahal. Kami bersepuluh pun segera berangkat ke Pelabuhan Angke, tempat di mana kami janjian dengan Adit, tour guide kami.

Picture32

sewa angkot lebih oke

Sesampainya di Pelabuhan Angke, bau amis ikan menyeruak indera penciuman kami. Belum lagi ditambah genangan-genangan air di sana dan di sini, membuat saya sedikit kegerahan. Salahnya, saya menggunakan sandal jepit yang malah membuat celana bagian belakang saya kecipratan genangan-genangan air yang saya injak. Saran saya, besok-besok gunain sandal gunung saja.

Kami tiba di Pelabuhan Angke nyaris jam 7. Suasana begitu ramai meski sebenarnya kami pergi bukan di long weekend. Rupanya minat liburan ke Kepulauan Seribu besar juga dari masyarakat. Setelah bertemu dengan Adit, yang rupanya membawa adiknya juga, kami segera pergi ke kapal yang akan mengangkut kami ke Pulau Pari.

Karena kami datang cukup kesiangan, alhasil kami tidak mendapatkan lantai satu di kapal. Otomatis, kami harus naik ke atas untuk mendapatkan tempat duduk. Tempat duduk di sini bukan seperti kursi dan semacamnya, melainkan harus ngampar di lantai.

Picture33

kayak barak pengungsian

Hampir memakan waktu kurang dari dua jam, kami tiba di Pulau Pari. Matahari terik menyambut kami setibanya di sana. Destinasi pertama kami adalah snorkeling. Saking antusiasnya, kami bergegas menuju homestay untuk menaruh barang-barang dan siap-siap.

Setelah shalat dan makan siang, Adit memberitahu jika kapal untuk pergi snorkeling sudah dipakai semua. Alhasil, kami diberi pilihan, apakah mau tetap snorkeling hari ini atau besok pagi. Menimbang banyak kemungkinan, akhirnya kami setuju jika rencana snorkeling akan dilakukan besok pagi.

Karena perubahan jadwal ini, akhirnya rencana kami siang sampai sore hari pertama adalah mengunjungi Pantai Perawan alias Virgin Beach. Dari homestay, kami naik sepeda menuju pantai tersebut. Tidak cukup jauh tetapi lumayan juga main sepeda siang-siang bikin kulit hitam.

Namun rasa panas itu terbayar sudah sesampainya di Pantai Perawan. Pasir putih, langit biru membentang, dan keadaan yang tidak begitu ramai membuat kami seolah-olah di private beach. Meski hanya bermain, berenang, dan foto-foto di pinggir pantai, tetapi cukup membuat kami lupa waktu.

 

Saat matahari mulai tergelincir ke arah barat, Adit mengajak kami ke pusat LIPI Pulau Pari, di mana di tempat tersebut kami dapat melihat sunset lebih jelas.

Picture43

Picture42

Picture41

Sehabis menikmati matahari tenggelam, kami kembali ke homestay dan bersiap-siap untuk shalat maghrib. Setelah makan malam, kami berencana akan melakukan bakar-bakar. Bukan bakar-bakar rumah tetapi bakar-bakar ikan, ubi, dan cumi. Kami pun kembali ke Pantai Perawan untuk main bakar-bakaran di sana. Berbeda dari siang hari, Pantai Perawan di malam hari lebih ramai. Ada beberapa kelompok wisatawan yang juga mengunjungi pantai saat malam hari.

Kami duduk di salah satu warung di pinggir pantai. Kebetulan warung tersebut menyediakan jasa bakar-bakar makanan.

Picture44

SECOND DAY

Minggu pagi adalah waktu yang kami tunggu. Karena it’s time to snorkeling!!! Akhirnya saya bisa merasakan namanya menyelam di laut meski sebenarnya saya tidak bisa berenang. Yang penting nyemplung!

Setelah sarapan, kami bersiap-siap dengan alat-alat snorkeling, seperti masker selam, snorkel, kaki katak, dan rompi pelampung. Kalau kata Tia, rompi pelampung seharusnya tidak dipakai jika kita ingin menyelam lebih dalam. Karena saya tidak bisa renang dan takut tenggelam, mau tidak mau rompi pelampung WAJIB dipakai.

Picture45Picture46

Pukul delapan pagi, kami mulai menaiki kapal untuk menuju ke titik penyelaman. Cukup memakan waktu setengah jam, kami pun sampai di tengah laut. Air di bawah kapal sangat jernih sehingga saya bisa melihat terumbu karang dan ikan yang berenang di sekitarnya.

Picture47

Dan inilah saatnya untuk nyemplung! Tia yang sudah punya pengalaman snorkeling sebelumnya, langsung nyemplung tanpa pegangan. Berbeda dengan saya yang agak ragu untuk ikut nyemplung. Tapiii, setelah nyemplung, saya lupa akan rasa ragu dan takut. Meski bisanya berenang gaya anjing, saya tetap pede dan berasa sudah expert saja.

Picture48

entah kenapa lebih mirip kayak korban kapal tenggelam

Setelah lima belas menit beradaptasi dengan laut, titik puncak yang tak kalah penting akhirnya tiba. Yap, pemotretan di bawah laut! Hahahaha!!! Yes, saya tertawa garing karena saking antusiasnya namun ragu kembali. Jika ingin mendapatkan angle, spot, dan view yang bagus, rompi pelampung harus dilepas. Oke, saya stay cool tapi hati menjerit. Tia dan Miswar yang sepertinya tidak takut akan tenggelam, tanpa pikir panjang melepas rompi pelampungnya dan melakukan pemotretan di bawah laut. Kali ini giliran Ilham, Adit, adiknya Adit, Puntha, dan Pak Indra yang ikut pemotretan. Riska tak ketinggalan meski dibantu oleh Tia. Mbak Reny pun begitu, dengan bantuan Miswar, ia dapat melakukan foto di bawah laut. Aji menyusul setelahnya. Tinggal giliran saya dan Toto yang belum melakukan foto. Akhirnya, mau tak mau kami melakukan pemotretan bersama tapi tetap pakai rompi pelampung. Meski foto kami tidak dikelilingi ikan-ikan atau di depan terumbu karang, yang penting judulnya foto di bawah air.

Picture49

underwater photo has been succeed

Satu jam kemudian, kami kembali naik ke kapal. Acara snorkeling pun selesai dan berarti kami akan pulang. Sesampainya di homestay, kami segera mandi untuk bersiap-siap pulang. Setelah check out dari homestay, kami menuju dermaga untuk menunggu kapal yang akan mengangkut kami. Berhubung kapalnya baru datang jam setengah satu, sedangkan kami sudah berada di dermaga pukul setengah dua belas siang, akhirnya kami memutuskan untuk foto-foto dan mengisi perut dulu sebelum kapal datang.

Picture51

Picture50

 

CLOSING

Liburan dua hari satu malam, saya rasa cukup untuk memulihkan pikiran setelah stres bekerja. Dan jika kalian yang tidak punya banyak waktu untuk liburan panjang atau uang di dompet dirasa tidak cukup, menurut saya liburan ke Kepulauan Seribu bisa jadi jawabannya. Uang yang saya keluarkan tidak sampai lima ratus ribu dan itu sudah termasuk keseluruhan, mulai dari biaya kapal pulang pergi, sewa homestay, makan, dan sewa alat-alat snorkeling.

Well, mari kita liburan!

Advertisements

3 thoughts on “Pari Island Trip (2 days 1 night)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s