Hong Kong 2016: Hello from the other side

OPENING

Haiiii, Nekat Traveler is back after hiatus almost 3 years. Sebab musababnya ya, saya sibuk kuliah dan skripsi. Memang sudah selesai skripsinya? Sudah sih tapi belum sidang. Hahaha.
Okeee, kali ini saya mau sharing tentang pengalaman nyasar di negerinya Jackie Chan alias Hong Kong. Lebih jauh dari destinasi saya sebelumnya, yakni Bangkok, Thailand. Tentu dong, kan biar lebih seru. Dalam perjalanan saya kali ini, saya tidak sendirian. Biasa, ada traveling partner. Tapi kali ini bukan Anas, partner saya pas ke Singapura dan Thailand, tapi Yuli Cumi, teman kantor saya.
Setelah berburu tiket murah di GATF (Garuda Air Travel Fair), akhirnya kami mendapatkan tiket promo ke Hong Kong dengan harga sekitar 2,7 juta pulang pergi. Murah banget memang untuk seukuran maskapai Garuda gitu loh. Tapi jika kalian mencari tiket Air Asia, Tiger Air atau maskapai low cost lainnya, kalian bisa mendapatkan tiket yang lebih murah. Tapiiii, ya ada tapinya. Garuda memiliki direct flight ke Hong Kong, jadi nggak perlu transit lagi. Karena setahu saya Air Asia atau Tiger Air mesti transit di Singapura dulu dan pastinya bakal lebih lama sampainya. Selain itu pula, Garuda sudah menghapus airport tax buat perjalanan keluar negeri dan juga kita bisa melakukan check in melalui website Garuda minimal 24 jam sebelum keberangkatan. Keuntungan check in early bird menurut saya sih kita bisa tentuin tempat duduk yang kita mau. Dan saya bisa pilih sebelah jendela. Yeeayy. (Kok jadi promosiin Garuda gini sih Dik) 😅
Baiklah, saya mulai ya sharing-nya!

FIRST DAY
Typhoon Haima

Saat malam sebelum keberangkatan, tepatnya tanggal 21 Oktober 2016, saya membaca berita jika Hong Kong sedang dilanda Topan Haima. Karena ini, seluruh Hong Kong mengalami yang namanya shut down. Artinya seluruh transportasi umum dan tempat-tempat hiburan ditutup. Ditambah ratusan penerbangan di HKIA ditunda. Galau? Yes, pakai banget! Seiya-iya kita sudah merencanakan jadwal mau kemana saja tapi kan nggak lucu jika batal mendadak? (lanjut nangis guling-guling). Namun saat malam harinya, saya membaca berita lagi jika Topan Haima sudah bergerak meninggalkan Hong Kong dan mulai memasuki daerah Cina Selatan. Alhamdulillah!
Akhirnya saat hari keberangkatan, pesawatnya untung nggak delay dan berangkat tepat waktu. Berang-berang pakai kancut, berangcuutt!!!

image

HKIA & disconnected communication

image

Kami tiba di Hong Kong International Aiport (HKIA) pukul 4 sore waktu setempat. Sebagai catatan, waktu HK lebih cepat 1 jam dibanding Jakarta. Seperti biasa, proses imigrasi tetap membuat saya deg-degan setengah mati. Ingat, jangan lupa isi kartu imigrasi yang sudah dibagikan pramugari di pesawat ya! Kalau belum dibagikan, cari saja di bandara. Dan rupanya, imigrasi HK sudah tidak memberlakukan cap di paspor. Jadi paspor saya cuma di-scan, lalu saya diberi kartu izin tinggal. Info saja nih, HK itu bebas visa loh. Jadi kalian hanya bermodalkan paspor saja kalau ke sini.

image

Setelah proses imigrasi selesai, kami langsung mengambil koper kami. Dan ternyata, distribusi koper kami mengalami penundaan cukup lama. Nyaris satu jam koper kami tidak muncul-muncul. Itu berarti kami sudah buang-buang waktu percuma *nangis lagi*. Bagi para flashpacker seperti kami, waktu itu sangat berharga. Apalagi jarak dari bandara ke penginapan cukup jauh. Belum lagi kami berencana ingin membeli sim card lokal. Akhirnya pukul 5 sore, kami baru mendapatkan koper kami. Buru-buru deh kami mencari tempat yang menjual sim card lokal.
Rencananya, kami akan membeli HK Tourist Sim Card yang untuk 5 hari, yakni seharga HKD 88. Setelah menemukan counter-nya dan mengutarakan sim card apa yang ingin dibeli, ternyata si ibu-ibu yang jual salah persepsi. Saya mengatakan jika ingin membeli sim card yang untuk 5 hari. Eh, malah dikasih sim card isi 5 GB yang untuk 8 hari. Yee, si ibu nggak nyambung nih! Memangnya kata-kata 5 days itu kedengeran kayak 5 giga apa? Akhirnya setelah perdebatan a lot, si ibu ngerti juga dan menyodorkan sim card yang untuk 5 hari tapi dengan kuota 1,5 GB. Dari tadi gitu ya. Setelah beres tentang harga dan produk, saya menyodorkan uang HKD 1000. Yep, saat menukarkan di money changer di Jakarta, saya nggak dikasih receh tapi langsung HKD 1000. Eehh, si ibu-ibu itu malah nolak dengan alasan nggak ada kembalian. Yeee, rese amat nih ibu-ibu! Akhirnya saya dan Yuli setuju untuk mencari tukaran uang dengan cara me-refill Octopus Card terlebih dahulu. Btw, apaan sih Octopus Card?

image

Octopus Card itu setipe dengan EZ-Link di Singapura dan Flazz milik BCA, BNI Tap Cash, atau Brizz milik BRI di Indonesia. Intinya adalah uang elektronik. Untuk kalian yang bakalan sering naik transportasi umum di HK, saya merekomendasikan untuk membeli Octopus Card. Apalagi bus umum di HK tidak akan kasih kembalian kalau uang kalian besar. Repot kan. Selain bisa buat bayar ongkos, Octopus ini bisa digunakan kalau kalian belanja di 7-11 atau makan di McD dan KFC. Tinggal tap saja. Praktis banget!
Oke, kembali lagi ke refill Octopus Card. Kebetulan saya meminjam Octopus milik Dharma, teman kantor saya, jadi saya tidak perlu beli kartu baru lagi. Tinggal refill saja. Saya mengisi ulang HKD 200. Sebenarnya agak kebanyakan dan melebihi bujet saya yang rencananya mau isi HKD 150 saja. Tapi ya sudahlah, lumayan bisa buat jajan di 7-11, McD, atau KFC. Setelah refill, saya dan Yuli berdebat lagi mengenai pembelian sim card lokal. Berhubung waktu sudah menunjukan hampir setengah enam ditambah jarak dari counter penjual sim card lokal tadi cukup jauh dari tempat refill Octopus, akhirnya kami sepakat tidak jadi membeli sim card. Saya jadi ingat kata Dharma, teman kantor saya, jika HK itu melimpah akan WiFi. Baiklah kita buktikan!

Macet, cet, cet!

Dari HKIA kami naik bus nomor A21 yang rutenya melewati Tsim Sha Tsui, tempat kami akan menginap. Dan inilah kali perdana kami menggunakan Octopus Card. Yes, tinggal tap, langsung masuk deh! Nggak repot-repot cari uang kan. Sekadar info, dari HKIA sebenarnya kami bisa naik kereta ekspres tapi karena pakai transit segala, ditambah ongkosnya yang lebih mahal 3 kali lipat dari ongkos bus, akhirnya kami memilih naik bus saja. Oh ya, bus A21 memang digadang sebagai bus khusus tujuan bandara jadi di dalam busnya disedikan tempat untuk menaruh koper-koper. Selain itu, bus ini juga bertingkat. Berhubung lantai 1 sudah penuh, kami langsung naik ke lantai 2. Eehhh, di lantai 2 juga cukup penuh. Untung masih kebagian duduk meski di belakang. Tak lama kemudian bus pun berangkat. Daaannn perkataan Dharma benar!!! Di dalam bus A21 difasilitasi WiFi. Yes, bisa update dan kasih kabar ke keluarga jika sudah sampai HK! Berhubung halte tujuan kami masih jauh, saya relaks sebentar ah.

Barulah setelah bus memasuki pusat kota, saya mulai siaga karena takut kebablasan. Dan rupanya, kami disambut kemacetan di HK. Saya berpikir apa karena malam minggu jadi agak macet ya. Rupanya kemacetan itu karena para bus umum berebut berhenti di halte sehingga agak antre. Saya mulai cemas karena jadwal saya setelah check in penginapan adalah menonton Symphony of Lights yang dimulai pukul 8 malam. Gimana kalau jam 8 saya belum sampe juga sedangkan sekarang nyaris jam 7??? (mulai galau lagi).
Akhirnya setelah stuck hampir setengah jam, bus kami jalan kembali. Itu berarti, halte tujuan kami sebentar lagi. Saya dan Yuli beranjak turun ke lantai 1 dan bersiap mengambil koper. Kami turun di Halte Cameron Road, 12 halte setelah HKIA. Namun untuk make sure, kami tanya saja penumpang bus untuk memastikan. Dan ternyata benar!
Menurut peta yang kami baca, penginapan kami hanya berjarak 3 blok dari halte bus. Kebetulan kami menginap di Pearl Premium Guest House, Mirador Mansion. Setelah menemukan Mirador Mansion, kami segera bergegas ke lantai 16. Oh ya, untuk lift di Mirador Mansion ini dibedakan menjadi 2 lift. Ada lift untuk lantai genap dan ada lift untuk lantai ganjil, udah kayak peraturan lalu lintas Jakarta ya, ganjil-genap 😃. Pearl Premium memang dibagi 2. Untuk keperluan check in-check out atau resepsionis, ada di lantai 16 sedangkan kamar yang akan kami tempati berada di lantai 10.

image

Setelah proses check in, kami diantar ke lantai 10 oleh pegawai Pearl Premium. Dan taraaaa, kamar kami cukup nyaman juga meski agak sempit tapi tak apalah. Cuma buat tidur doang kan. Fasilitas hostel kami cukup oke juga. Kamar mandi dalam, AC, televisi, kulkas, dan WiFi. Yuhuuu, update lagiiii!

image

Setelah istirahat sejenak, waktu hampir menunjukan pukul 8. Saya langsung menarik Yuli untuk pergi ke Victoria Harbour untuk menonton pertunjukan Symphony of Lights.

Symphony of Lights

Kebetulan jarak dari hostel ke Victoria Harbour dekat dan cukup berjalan kaki. Tapi sayangnya, kami telat 5 menit jadi Symphony of Lights sudah berjalan. Btw apaan sih Symphony of Lights itu? Symphony of Lights itu atraksi lampu-lampu yang dimainkan oleh gedung-gedung pencakar langit di HK. Lampu-lampu sorot yang berwarna-warni dimainkan dengan cara disorot ke berbagai penjuru. Jadi kaya lampu sorot joget gitu deh. Sebenarnya Symphony of Lights memiliki cerita narasi saat pertunjukan. Tapi karena cerita yang diputar dalam bahasa lokal, jadi saya nggak ngerti. Hahahaha.
Symphony of Lights cuma berlangsung selama 15 menit. Yaa, sebentar banget sih, mana telat 5 menit! Tapi ya sudahlah, yang penting sudah menonton. Sebenarnya saya mau cekrek-cekrek alias narsis di Victoria Harbour tapi penuh banget yee. Ini pada malam mingguan ya?

image

Setelah foto-foto sebentar, saya dan Yuli berencana mau mengisi perut. Laper juga boo. Makanan di pesawat tadi masih kurang. Oh ya, satu hal yang saya suka dari maskapai Garuda adalah dapat makan dan minum serta camilan. Hehehe.

Makanan Timur Tengah

Menurut buku Travelawan, di daerah Tsim Sha Tsui ada tempat makanan halal yang direkomendasikan. Berhubung makanan halal di HK langka banget, akhirnya kami pergi ke Al-Maidah Restaurant yang terletak di Tsim Sha Tsui Mansion. Saya dan Yuli sama-sama memesan nasi briyani untuk dibawa pulang. Setelah kelar membeli makan malam, kami tak lupa membeli air mineral di 7-11 untuk di hostel. Kami pikir hostel nggak kasih air tapi saya baru sadar di hari ke-3 jika di lorong hostel sebelah kamar saya disediakan dispenser air galon dan microvawe. Ya sudahlah, sudah telanjur! (langsung garuk-garuk tembok karena ngeluarin uang buat beli minum sendiri).

image

Sesampainya di hostel, kami segera menyantap makan malam kami. Saya lupa jika nasi briyani itu porsinya gede banget. Seharusnya kami beli 1 saja untuk dibagi 2 (baca blog saya pas liburan ke Singapura deh!). Karena sudah beli, ya kami habiskan. Mungkin karena kelaparan ya, itu nasi briyani hampir 80% habis. Hahaha perut kadut. Kayak gitu sok mau bagi 2.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s