Berkelana dengan Islam

Ketika ada pertanyaan mengapa saya jalan-jalan terus dan mengapa saya memilih destinasi luar negeri daripada negeri sendiri sebagai liburan, bukan berarti saya banyak uang sehingga jalan-jalan terus atau saya tidak cinta tanah air atau saya ingin eksis dan dianggap keren di media sosial atau semacamnya.
Jalan-jalan terus itu terdengar seperti saya sering bepergian setiap bulan. Padahal kenyataannya saya bepergian hampir satu tahun sekali namun sekalinya pergi, destinasinya haruslah anti mainstream atau tak biasa. Ada pepatah yang mengatakan “Once a year go someplace you’ve never been before”. Jalan-jalan juga nggak harus jauh sampai ke ujung dunia. Yang dekat-dekat juga tak masalah selama saya belum pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya.
  Sebelum bepergian, saya juga perlu menabung. Saya bukan pemilik mesin ATM bersaldo berpuluh-puluh juta. Saldo ATM saya meningkat jika saya tegas menabung. Sumber dana tentu saja berasal dari upah saya bekerja dan bukan uang orangtua atau uang pinjaman. Jadi, yang bilang jalan-jalan butuh uang banyak dan saya dikira menghambur-hamburkan uang untuk itu, saya sarankan kalian membaca blog saya ya.
Kecintaan saya terhadap tanah air tidak perlu ditanya. Bahkan saya tetap rindu Indonesia walau saya di negeri orang. Sebisa mungkin juga saya menjaga nama baik Indonesia di mata dunia melalui traveling di negeri orang, seperti bagaimana cara kita mematuhi aturan di sana, menghormati adat istiadat, serta bagaimana kita menjaga sikap dengan tak lupa mengucapkan ‘thank you’ di setiap pertolongan yang kita peroleh. Ingat, Indonesia terkenal akan keramahannya bukan.
Untuk masalah eksistensi, saya akui saya adalah tipe orang yang aktif di media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, atau Path. Namun apakah saya serta merta membagikan foto-foto saya setiap detiknya di medsos saat liburan? Absolutely no! Cukup satu foto untuk satu destinasi karena toh para teman kalian di medsos juga akan bosan melihat foto kalian terus menerus. Ini liburan atau tiduran di rumah sambil main ponsel? Update status atau foto boleh-boleh saja jika sesekali tapi alangkah lebih indah jika menikmati liburan dengan cara tidak ketergantungan terhadap medsos.
Selain itu pula, traveling keluar negeri mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar dan merasakan bagaimana menjadi kaum minoritas. Indonesia memiliki penduduk sebagian besar beragama Islam dan saya sudah terbiasa menjadi kaum mayoritas di negeri sendiri. Lantas, bagaimana rasanya menjadi kaum minoritas di negeri orang? Bagaimana jika saya mendapatkan perlakuan diskriminasi di sana? Dan bagaimana rasanya tetap menggunakan identitas muslimah, yakni jilbab, di negara yang mayoritas bukan beragama Islam? Akankah mereka menerima saya? Ada perjalanan spiritual di dalamnya.
Di samping itu, saya juga belajar bagaimana bersikap fleksibel dengan mematuhi peraturan di tempat asing tanpa mengesampingkan ajaran-ajaran Islam. Berkelana ke negara yang mayoritas penduduknya bukan Islam pasti kalian akan dipusingkan dengan pencarian makanan halal. Saya harus ekstra hati-hati sebelum memilih makanan. Sebisa mungkin saya bertanya kepada penjualnya apakah makanan yang dijual mengandung babi atau tidak. Tapi jika sudah urusan pakai minyak apa, penggorengannya jadi satu atau tidak, saya bisa menyerah. Insya Allah, setelah tahu makanan itu bukan daging babi atau anjing, makanan yang saya makan diridhoi oleh Allah. Aamiin.
Untuk urusan ibadah, saya juga menemukan kesulitan dalam menemukan tempat shalat. Tempat-tempat umum di negara non Islam berbeda dengan di Indonesia, di mana kalian dengan mudah menemukan tempat shalat jika di Indonesia. Dalam meng-arrange itinerary, saya selalu meluangkan waktu untuk shalat dan mencari tempat shalat terdekat. Jika memang tak bisa menemukan, satu-satunya jalan adalah saya cari tempat duduk dan melakukan shalat sambil duduk. Kalian boleh jalan-jalan kemanapun kalian mau, tapi janganlah sekali-kali meninggalkan shalat dalam keadaan apapun. Insya Allah, jalan-jalannya membawa pengalaman yang penuh berkah.
Tulisan saya ini bukan untuk mengajak kalian lebih memilih destinasi luar negeri ketimbang dalam negeri. Tulisan ini saya buat untuk menjelaskan jika makna traveling adalah suatu pencarian pengalaman, di mana kita diperbolehkan mengunjungi tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya untuk sebuah pembelajaran, di mana kita dituntut untuk fleksibel dengan kebiasaan setempat tanpa meninggalkan identitas kita sebagai kaum Islam.
Ada satu ayat Al-Quran yang menginspirasi saya untuk akan tetap traveling di sepanjang sisa hidup saya kelak, yaitu surat Al-Mulk ayat 15,

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

  Jadi, siapkan ransel serta petamu dan selamat menjelajah!

Advertisements

2 thoughts on “Berkelana dengan Islam

  1. Dikaaaaa 😍😍😍😍😍😍😍😍
    Kenapa sih orang2 itu bisanya komen ajaa… They don’t knoe the struggle behind! Keep silent pleaaaaaase! Huft… Ketika komen dan envy beda tipis wkwkwk…

    Like

    • Hahaha ner anettt, apalagi kalo disangkutpautin sama status single. Kan ekeu juga ikhtiar, siapa tau dapet jodoh yang sama2 suka traveling 😆😆😆

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s