Galeri Nasional

Halloww, Dika bersua kembali. Kali ini saya mau berbagi pengalaman dengan berjalan-jalan di salah satu tempat menarik di Jakarta. Tentu saja bukan mall ya. Sabtu tanggal 13 Agustus 2016, saya dan Anas (lagi-lagi dia) mengunjungi Galeri Nasional, yang letaknya di depan Stasiun Gambir. Kebetulan teman saya yang lain merekomendasikan Galnas (singkatan gaul Galeri Nasional) sedang diadakan pameran kemerdekaan karena memperingati 17 Agustus besok. Ditambah lagi, tidak ada biaya masuk alias gratis. Ih waw banget kan!

Sesampainya di Galnas, saya agak terkejut karena lumayan ramai. Rupanya antusias warga Jakarta besar juga untuk pergi ke Galnas. Dan kami pikir kami bisa langsung masuk tapi ternyata kami harus melakukan registrasi dulu di gedung sebelah gedung utama Galnas. Saya pikir registrasi biasa dan ternyata untuk registrasi saja, saya harus mengantre hingga 100 antrean lebih. Baiklah! Selain itu, saya juga baru tahu jika pengunjung bisa melakukan registrasi lewat aplikasi Galnas yang bisa diunduh di play store Android. Tapi sayangnya, pengunjung harus melakukan registrasi maksimal H-1. Jadilah, kami melakukan registrasi dengan cara manual alias mengantre.

Setelah diberi nomor urut, kebetulan kami mendapat nomor urut 314 sedangkan sekarang masih nomor 214, kami diminta untuk menunggu di tempat yang telah disediakan. Saya nyaris saja tidak jadi mengunjungi Galnas ketika tahu disuruh menunggu sampai 100 antrean tapi untung saja Galnas punya banyak spot bagus untuk foto-foto. Salah satunya adalah pameran lukisan yang diselenggarakan di sebelah gedung tempat registrasi. Pameran lukisan ini diselenggarakan kurator dan komikus yang sepertinya tergabung dalam suatu komunitas. Untuk masuk ke pameran lukisan itu lagi-lagi gratis. Kami hanya disuruh isi nama dan alamat email dan tentu saja anterannya tak sepanjang di gedung utama. Di dalam galeri pameran, banyak lukisan cukup unik menurut saya dan tentu saja menjadi latar bagus untuk berfoto. Meski tidak begitu mengerti tentang lukisan tapi saya agak paham dengan arti dari beberapa lukisan. Intinya agak menyinggung dengan kondisi Indonesia sekarang ini.

Setelah puas berkeliling di galeri pameran lukisan, saya dan Anas bermaksud narsis di depan mural atau lukisan dinding yang ada di sekitar Galnas. Sebenarnya tujuan utama saya datang ke Galnas ya untuk foto di depan muralnya. Hahahaha. Ada tiga mural yang terpampang di Galnas. Untuk letak mural ini ada di seberang galeri lukisan tadi dan di belakang gedung utama Galnas, tempat pameran kemerdekaan.

Setelah puas foto-foto di mural dan tentu saja agak rebutan dengan para ABG yang mau berfoto juga, kami berjalan menuju halaman depan gedung utama. Dan rupanya di situ terdapat lukisan 3D yang menurut saya oke banget. Jika kalian berdiri dan melihat dari atasnya, kalian tidak akan mengerti maksud lukisan itu apa. Namun jika kalian berdiri dari spot yang tepat dan telah ditentukan, kalian akan mengerti maksud lukisan itu apa.

Setelah puas berfoto di atas lukisan 3D, antrean registrasi sudah mencapai nomor 283. Itu berarti, sebentar lagi nomor kami akan dipanggil. Kami pun memutuskan untuk menunggu saja di ruang tunggu sekaligus foto-foto di sekitar situ. Tak sampai setengah jam, nomor anteran kami dipanggil. Oh ya, ternyata satu nomor antrean dapat dipakai untuk 4 orang loh jadi saya dan Anas tidak perlu 2 nomor. Setelah registrasi, di mana kami hanya ditanya nama, nomor ponsel, dan alamat email, kami disuruh menitipkan barang bawaan, kecuali dompet dan ponsel dapat dibawa. Untuk yang membawa kamera pocket atau SLR, siap-siap saja berakhir ditempat penitipan karena dilarang dibawa. Setelah menitipkan tas, kami meminta cap di tangan kiri sebagai tanda telah melakukan registrasi, lalu kami dapat melenggang masuk gedung utama Galnas. Kami diperiksa dan diberi arahan oleh volunter Galnas jika boleh berfoto asal tak menggunakan blitz serta kami dilarang menyentuh lukisan.

Pameran kemerdekaan ternyata memamerkan lukisan-lukisan para kurator yang bertemakan kemerdekaan RI. Selain itu pula, ada pameran lukisan karya Bung Karno serta foto-foto dokumenter zaman kemerdekaan dulu. Anas berbeda dengan saya. Ia sibuk menekuni satu demi satu lukisan dan benda-benda antik yang dipamerkan sedangkan saya hanya melihat sepintas dan sibuk mencari spot bagus untuk foto (mohon jangan ditiru ya!). Kami berkeliling dan berfoto di beberapa tempat lalu setelahnya kami menyudahi touring hari ini. Oh ya, setelah kami keluar dari gedung utama Galnas, tangan kanan kami akan dicap sebagai tanda sudah mengunjungi Galnas.

Oke, sekian kisah jalan-jalan pintar ala Dika. Tidak ada salahnya kita mengunjungi tempat-tempat bermanfaat seperti ini di kota sendiri. Happy jalan-jalan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s