Museum Nasional

Hello, guys! Hiatus flashpacker is back. Kali ini bukan untuk membahas jalan-jalan hedon nan lama tapi lebih fokus membahas jalan-jalan pintar ala Dika. Yap, saya mau berbagi pengalaman mengunjungi salah satu tempat di Jakarta yang menurut saya sangat recommended, terutama jika kalian membawa anak, sepupu, atau adik yang masih duduk di bangku sekolah. Tempat itu tak lain tak bukan adalah…. Jeng-jeng…. Museum Nasional Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Museum Gajah.

Museum Nasional ini letaknya di Jalan Merdeka Barat, tepatnya di depan Halte Busway Monas dan di sebelahnya Kementerian Pertahanan RI. Jadi, kalau kalian sedang iseng-iseng putar-putar Jakarta naik Transjakarta, tak ada salahnya mampir ke Museum Nasional. Hanya tinggal turun di Halte Monas. Selain itu pula, bus tingkat city tour juga berhenti di depan musem tersebut. Harga tiket masuk Museum Nasional tergolong murah. Hanya Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak.

Singkat cerita, jalan-jalan pintar ini dilakukan bulan Mei 2016, saat saya masih sibuk skripsi dan baru ke update di blog sekarang hehehe. Akhirnya, kami memutuskan untuk putar-putar Jakarta saja. Setelah merundingkan tempat, akhirnya kami memilih mengunjungi Museum Nasional. Mengapa kami memilih museum tersebut? Itu karena kami berdua belum pernah ke sana. Agak keterlaluan memang karena setiap hari saya melewati museum tersebut jika mau berangkat kerja dan pulang ke rumah. Selain itu pula, jika kalian melintasi Museum Nasional, kalian pasti akan penasaran dengan beberapa objek yang terpampang jelas di halaman museum dan cocok dijadikan background foto. Hehehehe.

Kami datang tepat jam 12 siang. Suasananya nggak begitu ramai, tak seramai museum-museum di Kota Tua yang jelas. Bahkan cenderung sepi jika mulai masuk. Setelah menitipkan barang bawaan, kami mulai memasuki rotunda museum yang berisi arca-arca. Dan saya menyempatkan foto bersama Ganesha. Ketika makin ke dalam, kami disambut oleh taman arkeologi yang terbentang luas di tengah-tengah gedung museum. Yang buat saya terkejut, tamannya terawat dan rapi banget. Di tengah-tengahnya banyak patung-patung hewan zaman dulu.

Kami melipir ke sebelah kiri museum yang berisikan keramik-keramik dan kain tekstil dari berbagai negara. Ada dari Cina, Thailand, sampai Tiongkok.

Kami terus berjalan sampai memasuki ruangan yang berisikan miniatur rumah adat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Setelahnya, kami memasuki ruangan yang berisikan etnografi pulau-pulau besar di Indonesia. Mulai dari Sumatera hingga Papua. Di ruangan etnografi dijelaskan mulai dari pakaian adat, alat musik tradisional, sampai alat-alat berburu. Sssttt, ternyata Anas penasaran sama yang namanya koteka. Sampai-sampai dia tertinggal jauh saat saya sudah beranjak pergi. Ketika dicari, dia masih serius berdiri di depan rak kaca tempat koteka berada. Hahahaha.

Tour kita hampir habis. Di akhir gaya, saya pun menyempatkan foto di depan poster Kepulauan Indonesia yang gede banget.

Tapi eh tapi, kok sebentar banget ya kita muter-muter? Masa cuma segini doang sih isi museumnya? Ternyata kami salah besar. Ada satu bagian museum lagi di sayap kanan. Dan ternyata, museum di sayap kanan terdapat 4 lantai. Yuk mari, kita foto lagi, eh belajar lagi. Hihi.

Museum di sayap kanan terdapat empat lantai dan memang gedung baru. Masing-masing lantai dihubungkan dengan eskalator dan lift loh. Di sini saya lagi-lagi terkejut dengan lengkapnya fasilitas museum karena saya jarang menemukan hal begini di tempat milik pemerintah. Udah begitu, tempatnya full AC dan lantainya nggak semen. Pokoknya bersih dan terawat deh!

Lantai 1 di museum sayap kanan terdapat pelajaran mengenai evolusi manusia pra sejarah dan lingkungan. Mulai dari pitecan tropus sampai ke bentuk manusia.

Setelah puas belajar di lantai 1, kami naik ke lantai 2. Namun sayangnya, eskalatornya mati sehingga kami terpaksa naik manual deh. Kami tak menggunakan lift karena saat itu ada rombongan anak-anak yang memenuhi lift. Di lantai 2, kami disambut oleh tema IPTEK. Yap, yap, di sini terdapat alat-alat teknologi yang menurut saya sih alat teknologi dulu kala. Mulai dari panci buat masak, sepeda roda tiga, sampai kompas di kapal.

Sehabis itu, kami segera naik ke lantai 3. Dan tumbennya, eskalatornya jalan. Hoho. Di lantai 3, kami dihadapkan oleh beberapa prasasti dan arca-arca seperti di rotunda tadi. Akhirnya saya melihat batu yang ada tapak kakinya. Saya langsung teringat pelajaran Sejarah saat SD dulu dan begitu penasaran dengan cerita tersebut. Saya kira cuma dongeng dan ternyata ada. Hahaha. Selain itu pula, saya menemukan arca Dewa Wisnu dan Anas tiba-tiba nyeletuk ‘Ganteng ya, Wisnu!’. Zzzzz banget nih Anas.

Lanjut setelahnya, kami kira lantai 4 memang tidak untuk umum. Hal ini dikarenakan eskalator hanya tersedia sampai lantai 3 saja. Saya pun iseng nanya ke penjaga di situ. Rupanya lantai 4 terbuka untuk umum dan kami bisa akses dengan menggunakan lift, namun dengan catatan, kami nggak boleh ambil gambar alias foto-foto di dalam. Usut punya usut, di lantai 4 terdapat emas-emas peninggalan zaman dulu. Dan benar saja, saya melihat beberapa benda yang pada lazimnya adalah benda-benda sehari-hari namun terbuat dari emas. Contohnya, gayung mandi, mangkuk, sendok, sampai ikat pinggang. Waw, ternyata orang zaman dulu tajir juga ya! Saya juga menemukan beberapa mata uang yang menurut saja seperti batu kerikil tetapi terbuat dari emas. Ih waw banget kan! Belum lagi beberapa perhiasan seperti cincin, gelang, sampai kalung yang ukurannya melebihi batas normal ukuran sekarang. Nggak berat apa ya mereka dulu?

Setelah kami puas berkeliling, kami memutuskan untuk keluar. Langsung pulang? No no no. Kami punya satu tujuan lagi, yaitu narsis di halaman depan museum yang cukup luas. Dan keinginan saya foto di depan black hole pun tercapai. Hehehe. Tak lupa, kami pun narsis di depan patung gajah yang menjadi simbol Museum Nasional ini. Karena patung inilah, Museum Nasional dikenal dengan nama Museum Gajah.

Well, jalan-jalan pintar saya cukup di sini. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan bahan referensi yang mau bertandang ke Museum Nasional. Once more, I recommend this museum to you. Happy jalan-jalan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s