Tanggung Jawab vs Dedikasi

Sudah lebih 5 tahun saya bergelut dalam profesi sebagai admin marketing atau yang lebih terkenal dengan nama asisten marketing. Suka dukanya banyak, hampir sejajar. Tapi jika dikeluhkan dan tidak disyukuri, pasti dukanya lebih banyak. Secara asisten marketing itu harus bahkan WAJIB (pake caps lock) jadi orang yang gercep alias gerak cepat. Tangan kalau bisa ada 10 dan kaki ada 10 juga (mendadak menjelma menjadi kaki seribu). Kerjaan beragam, dikejar-kejar pihak eksternal maupun internal, harus cepat, tangkas, tepat, dan benar. Nggak dikejar-kejar target kayak marketing sih tapi namanya juga asisten marketing, kalau marketingnya dikejar-kejar target ya pasti berimbas ke asistennya. Kalau kata orang kantor saya, admin paling njelimet dibanding admin lainnya ya asisten marketing tapi pendapatan sama kayak admin lainnya. Huhuhu.

Tapi kali ini, saya nggak mau membahas suka duka atau job desc asisten marketing, melainkan ke suatu pertanyaan dan kejadian yang sebenarnya sudah sering saya alami dan terima namun sepertinya perlu dibahas agar ada efek positif untuk bersama (ceileee).

Pertanyaan yang sering saya terima adalah ‘Ngapain sih lo susah-susah ikut kejar target? Kayak nanti bonus lo dapat gede kayak marketing aja’. Siapa juga sih yang mau dikejar-kejar target meski itu bukan job desc kita. Untuk pendapatan pastilah gedean marketing, bonus juga. Secara marketing pontang-panting kejar target biar profit perusahaan naik, lalu berimbas ke bonus para karyawan (catat ya, bonus para karyawan, bukan bonus pribadi). Jadi sudah sepantasnya mereka dapat bayaran plus. Lalu gimana admin marketing? Apakah bonus mereka lebih besar dari admin lainnya? Kenyataan pahitnya, tidak. Yap, semua admin sama, rata, serupa, dan ‘sangat adil’ dalam pembagian bonusnya. Memang sih kadang-kadang getir juga kalau mengingat hal ini. That’s why pertanyaan di atas selalu muncul jika saya lagi jengah sama kerjaan.

Tapi balik lagi ke diri saya. Entah mengapa jika saya tidak bekerja maksimal, ada perasaan mengganjal di benak saya. Misalkan, saya bisa saja masa bodoh sama target para marketing dan tidak gercep menyelesaikan pekerjaan saya. Tapi saya berpikir dua kali dulu sebelum cuci tangan seperti itu. Sudah nasibnya para karyawan harus menjadi buruh di perusahaan untuk mendapatkan gaji. Jika saya tidak melakukan dengan maksimal itu sama saja kayak saya tidak bertanggungjawab. Yes, that’s the point! Bertanggungjawab dan bukan berdedikasi. Menurut saya kedua hal itu berbeda.

Saya juga bukan tipe karyawan yang giat dan selalu bersemangat 45 mengerjakan kerjaan. Ada kala saya malas dan tidak bergairah. Tapi saya kembali teringat kata ‘tanggung jawab’. Jika kita susah bertanggungjawab dari hal-hal kecil, gimana kalau diberi tanggung jawab yang besar? Suatu saat nanti Insya Allah saya akan menjadi seorang ibu dan itu berarti Allah memberikan tugas besar ke saya akan titipan-Nya. Maka dari itu, mulainya bertanggungjawab dari hal-hal kecil menjadi pembelajaran bagi saya.

Lalu hal kedua adalah bekerja sama. Bukan hal asing lagi bagi para asisten marketing yang harus pandai berbaur dan bergaul dengan banyak divisi. Makanya tak heran asisten marketing di kantor saya lebih populer ketimbang marketingnya. Hahaha.

Kadang saya menemukan beberapa rekan kerja yang susah diajak bekerja sama. Misalkan, saya ada urgent minta tolong ke satu orang di divisi tertentu. Tapi orang yang saya mintai tolong masih santai-santai main hape pula. Terus, kalau permintaan tolong saya tidak ditanggapi, saya bisa saja kena semprot para customer atau bos saya sendiri. Duh, kesel deh!

Yang lebih ngeselin adalah jika saya udah kebelet urgent dan orang yang saya mintai tolong malah masih cuek, saya kadang langsung bilang ke marketing atau bos saya sendiri mengenai perilaku orang tersebut. Bukan berarti saya tukang ngadu tapi ini sudah di luar kuasa saya. Daripada saya banting meja depan dia kan, mending bos saya saja yang ngomong. Setelah permintaan tolong saya dilakukan, orang tersebut malah nyinyir dan tak jarang malah balik menyalahkan saya atau marketingnya, dipikir kita yang selalu serba urgent (harap bersabar ini ujian).

Dalam satu kantor, teamwork memang rules garis keras. Kita sama-sama butuh dan saling melengkapi, mengapa juga mesti melimpahkan kesalahan ke pihak lain. Kembali lagi ke masalah pertama, tanggung jawab. Yap, mereka yang susah diajak bekerja sama kadang merasa dirinya harus steril dari intervensi kecil yang menurut mereka bukan urusannya meski sebenarnya ada hubungannya. Memang sih kadang-kadang jika ada masalah yang saya tidak tahu cara penyelesaiannya, saya nggak jarang bertukar pikiran dengan bos saya untuk mengambil jalan tengahnya. Bukan kabur atau nggak mau tahu, terutama ke masalah yang menyambar kepada kerjaan saya.

Intinya semua kembali kepada tanggung jawab, bukan berdedikasi atau mau ikut campur ribet-ribet. Kita sebagai asisten marketing juga bukan gila tolong tapi memang sudah kewajiban kita untuk ‘merecoki’ kedamaian mereka yang ingin jauh dari gangguan kecil nan sepele tapi berkepanjangan pada kerjaan. Jalan pintasnya gampang, kalau nggak mau direcoki ya mending nggak usah kerja kantoran. Karena kantor manapun teamwork pastilah ada. Semua nggak bisa berdiri sendiri. Semua akan saling berkesinambungan hingga simpul terbentuk.

Kembali lagi ke tema awal, ini bukan curhatan saya mengenai pekerjaan atau rekan kerja saya di kantor tapi sebuah sharing bagaimana kita tetap bertanggungjawab tanpa terlalu kaku akan dedikasi meski lingkungan dan keadaan di sekitar terus menggoda untuk masa bodoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s