Singapore 2017: Central Area of Singapore

​THIRD DAY

Kampong Glam & Haji Lane part 2

Saya sudah sangat mewanti-wanti cuaca di hari ketiga. Jika masih kayak kemarin, wah saya nangis bombay deh. Dan ternyataaa, terereng….hujan lagi di pagi hari (langsung nangis bombay+bawang merah+bawang putih). Meski begitu, kami sudah siap dari jam 8. Alhamdulillah, menjelang pukul 9 hujan sudah mulai reda. Matahari agak bersinar terang. Yuhuuuu yipeee yeesss!

Destinasi pertama adalah Kampong Glam dan Haji Lane. Yap, berhubung kemarin nggak puas foto-foto di Haji Lane, kami memutuskan kembali lagi ke sana di pagi hari. Sekalian ngelewatin dan berangkat gitu. Eh btw apaan sih Kampong Glam? Sebenarnya Kampong Glam itu museum. Berhubung kami memang nggak ada niatan mengunjungi museumnya dan masih tutup juga, jadi kami cuma foto-foto doang. Lumayan, banyak spot yang instagrammable.

Baru deh, dari situ kita jalan ke Haji Lane. Suasananya nggak serame kemarin sore dan kafe-kafenya masih tutup jadi kita bisa leluasa foto-foto di depan mural-muralnya. Saya sarankan sih kalau ke sini pagi-pagi biar puas foto-fotonya, kecuali kalau kalian ke sini dengan tujuan mau nongkrong di kafenya atau belanja di toko-tokonya, ya mending datangnya setelah makan siang atau menjelang sore.


Singapore River Cruise in Clarke Quay

Setelah puas narsis di Haji Lane, kami berangkat menuju Clarke Quay. Untuk kalian yang merasa anak gaul yang cetar membahana serta suka nongkrong, Clarke Quay ini menjadi salah satu tempat yang direkomendasikan. Selain kafe dan resto, bar-bar juga berjejer di sepanjang tepi Singapore River yang membelah daerah ini. Biasanya geliat Clarke Quay mulai terasa setelah malam hari. Namun karena saya hanya anak bawang yang masih lugu nan polos, jadi datangnya pagi-pagi saja. Secara, tujuan datang ke sini bukan untuk bergaul tapi buat foto-foto doang.

Tapiiii, yeee ada tapinyaaa. Anak bawang nggak ke sini untuk foto-foto saja. Karena tujuan utama kami ke sini adalah untuk mengikuti Singapore River Tour. Gaya kan saya!!! Di sepanjang Singapore River berjejer banyak bangunan bersejarah dan ikon-ikon terkenal Singapura. Mulai dari museum-museum, Anderson Bridge, Merlion, Marina Bay Sands, Esplanade sampai National Art Science Museum yang gedungnya unik. Nah, saya akan menyusuri Singapore River naik kapal. Bukan kapal pesiar atau kapal motor tapi Singapore River Cruise nama kerennya. Wkwkwk.

Naahh, untuk tiketnya saya beli di Mbak Darling. Harga biasa sekitar SGD 25 tapi kalau beli di Mbak Darling Cuma SGD 22. Lumayan hemat SGD 3. Jadi, rute yang direkomendasikan adalah kapal berangkat dari Clarke Boat, lalu nanti turun lagi di situ setelah putar balik di depan Marina Bay Sands. Meski ada beberapa penumpang turun di Merlion Boat tapi sayang deh sudah bayar SGD 22 masa sebentar doang. Mending balik lagi ke Clarke Boat. Katanya, waktu yang tepat untuk naik Singapore River Cruise adalah sore-sore saat matahari sudah mulai turun. Biar nggak begitu panas. Secara bagian kapal yang cocok buat spot foto itu outdoor.

Bukan Dika namanya kalau nggak menantang matahari. Yap, tepat di siang bolong saya membelah Singapore River. Gosong dah muka! Tapiiii untungnyaaa, rezeki anak solehah memang, cuaca agak sedikit berawan dan matahari ngumpet. Jadi, nggak panas-panas banget deh. Wuhuuu!!! Makin cucok deh fotonya.


Merlion, ikonnya Singapura

Setelah kelar ikut Singapore River Tour, saya langsung cusss ke tempat paling wajib diinjak saat ke Singapore. Yep, Merlion! Kalau kalian ke Singapore tapi nggak ke Merlion tuh bagai sayur tanpa mecin, eh garam deng! Hihi. Dari Clarke Quay, saya berjalan kaki menuju Merlion. Lumayan dekat dan kami pun menyusuri kembali Singapore River. Tapi kalian jangan salah kira, sepanjang berjalan kaki dari Clarke Quay ke Merlion itu banyak spot yang bagus buat foto. Jadi, nggak bakal kerasa capek dan bosen deh!

Sesampainya di Merlion, saya cuma menghela nafas. Yang namanya orang, baik turis lokal sampai interlokal, tumplek blek di sana. Penuuuh kayak Tanah Abang menjelang lebaran (lebaydotcom). Mau foto aja mesti nyenggol-nyenggol sama curi-curi tempat. Kalau nggak gercep alias gerak cepat, spot foto kece bakal direbut orang. Karena dulu sempat foto-foto di sini, jadi saya ambil fotonya juga tahu diri. Cuma beberapa jepret lalu kabur.

Dari Merlion, tempat selanjutnya yang akan saya sambangi adalah Gardens by the Bay (GBTB). Naahhh, ini tempat belum pernah saya datangi. Jadi, jangan salahkan hayati kalau banyak foto di situ. Wkwkwk.

Untuk menuju GBTB, saya berjalan kaki dari Merlion. Jaraknya sama kok kayak dari Clarke Quay ke Merlion. Sekalian saya mau narsis di Helix Bridge, jembatan yang konon katanya terinspirasi dari DNA manusia. Oh ya, sepanjang perjalanan dari Merlion ke GBTB juga kalian akan disuguhkan oleh banyak spot buat narsis dengan latar belakang Marina Bay Sands, Esplanade, Singapore Flyer, sampai National Art Science Museum. Pokoknya jalan kaki memang jalan alternatif paling baik di Singapura. Meski capek tapi kalian akan dapat banyak tempat yang kece buat narsis. Hohoho.


Gardens by the Bay

Setelah menyeberangi Helix Bridge, saya menuju The Shoppes yang letaknya sebelahan dengan Helix Bridge. Dari The Shoppes itu, saya menyeberang lewat bawah tanah, melintasi Marina Bay Sands, lalu tiba di GBTB. Sebenarnya akses pintu masuk GBTB itu banyak. Nah, berhubung ketemunya di dekat stasiun MRT Bayfront, jadi saya lewat situ aja. Dari kejauhan udah keliatan tuh pohon-pohon unik kepunyaan GBTB.

Satu masalah yang melanda saya dan Mbak Ria setibanya di GBTB. Laperrrr!!! Muka udah kucel, badan lesu lunglai, dan perut keroncongan. Berdasarkan info dari internet, katanya ada resto Texas di GBTB. Bukan restoran asli Texas, Amerika, tapi Texas Chicken. Katanya lagi, Texas Chicken salah satu dari sedikit resto berlabel halal di GBTB. Tanpa pikir panjang kita langsung beranjak. Tapi yang ngebingungin, GBTB itu gede banget yee, kayak hutan. Nah ini Texas Chicken dimananya ya? Untung saya sudah download peta GBTB. Dari artikel di internet yang saya baca, Texas Chicken ada di Supertree Dining dan lumayan jauh juga ya dari pintu masuk saya datang.

Masalah selanjutnya yang melanda saya dan Mbak Ria setibanya di Texas Chicken adalah nggak ada menu nasi boo. Secara orang Indonesia emang nggak afdol kalau nggak makan nasi, ditambah lagi kelaparan. Akhirnya kami memesan burger dan kentang goreng saja. Dan doa kami pun langsung dijawab. Burger dan kentang goreng yang kami pesan rupanya besar nan gendut luarrrr byasaakk. Beda dari burger dan kentang goreng di Indonesia yang kinyis-kinyis. Pelajaran buat saya, jangan meng-underestimate makanan orang bule! Dikasih kentang goreng seukuran ubi, kelar hidup lo! Hahaha.

Masalah perut sudah teratasi. Masalah lain menunggu datang. Katanya lagi (lama-lama gue nyanyi lagunya Trio Kwek-Kwek juga nih), ada mushola di dekat Texas Chicken. Berhubung sudah masuk waktu sholat Dzuhur, saya memutuskan untuk sholat sejenak. setelah selesai makan, saya cari tuh mushola tapi nggak ketemu-temu. Akhirnya saya balik lagi ke Texas Chicken untuk tanya pegawai di sana. Rupanya mushola itu bersembunyi di pintu bertuliskan ‘For staff only’ yang letaknya persis di sebelah Texas Chicken. Yeee, mana saya tahu ya! Nanti kalau saya masuk takut didenda. Tapi sepertinya mushola ini memang nggak sengaja dibuat serta dikhususkan bagi karyawan karena saya menemukan karyawan GBTB berjilbab di sana. Oh ya, untuk tempat wudhunya langsung ke toilet saja. Tapi tidak perlu khawatir, ada sandal jepit di sana.


Flower Dome: Serasa lagi di Belanda

Makan sudah, sholat pun sudah. Jadi, kami tenang untuk jalan-jalan lagi. Tujuan selanjutnya adalah masuk Flower Dome. Sebenarnya masuk ke GBTB itu gratis, tapi untuk masuk Flower Dome, Cloud Forest, dan OCBC Skywalk baru bayar. Naahh, saya mau pamer lagi nih sekalian promosi. Hihi. Untuk tiket Flower Dome dan Cloud Forest, saya sudah beli di Mbak Darling. Jadi, tidak perlu antre beli tiket lagi. Selain itu, harganya juga lebih murah. Kalau beli di loket tiket langsung, harganya SGD 28 tapi kalau beli di Mbak Darling cukup SGD 25. Lumayan SGD 3 buat beli minuman.

Flower Dome dan Cloud Forest letaknya bersebelahan. Kami memutuskan untuk masuk ke Flower Dome terlebih dahulu. Btw apaan sih Flower Dome? Flower Dome itu setipe kayak rumah kaca yang diisi beberapa bunga dari berbagai belahan dunia. Namun tema setiap bulannya berbeda. Kebetulan saat saya datang, tema di Flower Dome adalah tulip season. Jadi, jenis-jenis tulip dipamerkan di situ. Asli? Ya asli dong! Sebelum tulip, Flower Dome sudah memamerkan sakura. Padahal saya maunya pas sakura. Kan biar kaya di Jepang gitu. Tapi setidaknya pas foto bareng tulip, saya berasa kayak di Belanda. Hahaha. Tapi ingat, jangan dipetik atau diinjak ya!

Oh ya, satu lagi nih, berhubung saya datangnya pas weekend, lebih tepatnya lagi long weekend bagi rakyat Indonesia, jadi kalau mau foto mesti antre dan gercep kayak di Merlion. Harap bersabar ini ujian.


Cloud Forest: Kakiku tremor

Setelah puas narsis di Flower Dome, kami berlanjut ke Cloud Forest. Nah, Cloud Forest nggak kalah kece dari Flower Dome. Di sini dipamerkan air terjun buatan serta jembatan yang membelah Cloud Forest. Jadi, Cloud Forest itu diibaratkan bukit dengan air terjun gitu deh. Banyak tanaman layaknya di hutan di Cloud Forest ini. Setelah menyusuri lantai dasar, saya bergegas antre lift menuju lantai 6. Ada apaan di lantai 6, Dik?

Sesampainya di lantai 6, kami menyusuri Cloud Walk dan Tree Top Walk. Btw apaan tuh? Jadi, Cloud Walk itu dibuat agar kami berasa kayak jalan di atas awan. Saking berasa kayak jalan di atas awan, kaki mendadak tremor. Secara itu tinggi banget yee. Lalu Tree Top Walk nggak kalah membuat kaki gemetar kayak Cloud Walk. Jalan pun susah apalagi narsis. Nggak pegangan salah, pegangan juga salah, takut salah pegangan (eh). Jalan jadi buru-buru tanpa ngeliat ke bawah.

Perbedaan sebelum dan sesusah menyusuri Cloud Walk

Sekeluarnya dari Cloud Forest, sebenarnya kami berencana mau naik ke OCBC Skywalk. Tapi berhubung kaki udah tremor nggak ketulungan gara-gara Cloud Walk dan Tree Top Walk, akhirnya rencana ke OCBC Skywalk kami skip. Bisa-bisa sampai atas pingsan deh. Oh ya, tiket masuk ke OCBC Skywalk nggak termasuk ke dalam tiket yang saya beli di Mbak Darling. Tiket itu dijual terpisah dengan harga SGD 8. Untung aja nggak termasuk tiket yang saya beli. Bisa rugi bandar.

Ketinggian? Siapa takut! Tapi itu dulu

Akhirnya kami berkeliling saja sambil foto-foto di sekitar GBTB, makan es krim McD rasa leci vanila, dan nongkrong cantik di Golden Garden. Waktu sudah menunjukan pukul setengah 7 malam tapi kok nggak gelap-gelap ya. Mana kita kan ceritanya mau liat GBTB di malam hari yang katanya lebih cantik dengan lampu-lampu berkilau. Tapi ini nggak nyala-nyala lampunya. Akhirnya kami pulang di saat lampu GBTB belum nyala. Sebeeelll.

Lampunya nggak nyala-nyala. Sebelll

Rupanya kepulangan dari GBTB dikarenakan ada rencana tersendiri loh. Yap, kami lanjut belanja di Bugis. Semua toko di Bugis Street kami susuri sampai ke Bugis Junction. Dan di saat kami sudah kelelahan sampai di hostel pada malam harinya, tiba-tiba Mbak Ria berceletuk ‘Pasti jam segini lampu-lampu di GBTB udah nyala ya!’. Kekesalan saya pun kembali menyeruak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s