From Mother with Love

045e76d4d8c75e46ecb1106079b7bcb8

source: Pinterest

Sebenarnya tulisan ini mau saya buat saat hari wanita sedunia yang jatuh setiap tanggal 8 Maret atau hari ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember. Tapi mengingat adanya Hari Ibu Internasional yang jatuh tanggal 11 Mei kemarin, tidak ada salahnya saya menulis sekarang. Ya, masih bulan Mei kan ya? (sedikit maksa)

Mengapa saya ingin mem-posting tulisan ini pada hari spesial? Karena kali ini saya mau membahas mengenai peran wanita sebagai ibu. Meski sebenarnya saya belum menjadi seorang ibu. Jangankan ibu, menjadi seorang istri saja belum (mendadak curhat). Tapi fenomena yang satu ini memang sering dibahas, baik dari zaman baheula saat saya masih duduk di bangku sekolah sampai zaman sekarang saat saya sudah duduk di bangku perkantoran.

Terdapat dua pendapat yang terus mengusik saya untuk terus menelisik. Sebenarnya lebih bagus jadi ibu rumah tangga atau ibu pekerja? Jika terus dirunut pastinya pertanyaan ini tidak akan menemukan titik tengah karena banyaknya pendapat yang berbeda. Saya dilahirkan dari rahim seorang wanita yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga namun dalam keseharian, saya lebih banyak bergaul dengan wanita yang memutuskan menjadi ibu pekerja. Pasti ada beberapa hal dalam paradigma mereka yang berbeda, bahkan cenderung bertentangan.

Jika menurut saya sendiri, tak ada yang salah menjadi ibu rumah tangga maupun menjadi ibu pekerja. Keduanya sama-sama mulia, yakni menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Ibu rumah tangga memang lebih banyak waktu untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak mereka. Namun pekerjaan ibu rumah tangga tidak bisa dianggap sebelah mata. Mulai dari matahari belum terbit sampai bulan menggantikan di langit, pekerjaan ibu rumah tangga terus bergulir hingga anak dan suaminya tertidur. Tak jarang ibu rumah tangga yang saya kenal dulunya adalah seorang ibu pekerja dan memiliki gelar pendidikan tinggi. Mereka rela meninggalkan karier demi menjaga anak-anaknya sepanjang waktu. Pengorbanan seperti ini bukan hal sepele. Ditambah lagi perkembangan zaman sekarang yang semakin maju dan kebutuhan ekonomi yang semakin menuntut, melepas penghasilan demi keluarga memang tidak mudah. Namun mereka memiliki pilihan dan pandangan sendiri. Makanya saya agak terganggu dengan komentar usil seperti, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga?”. Let’s check this out! Kalau menurut saya, pendidikan seorang wanita memang sangat dibutuhkan. Untuk apa? Ya untuk membangun generasi selanjutnya. Anak-anak merupakan modal awal untuk membangun generasi yang lebih baik ke depannya. Bukankan ibu merupakan sekolah pertama bagi anaknya?

Lantas bagaimana dengan ibu pekerja? Menjadi ibu pekerja juga tak kalah sulit. Ia harus membagi jasmani dan rohani menjadi 3 peran, yakni sebagai istri, ibu, dan pekerja. Mereka juga sama-sama bangun sebelum matahari terbit, lalu baru beristirahat saat suami dan anak mereka tidur. Pikiran mereka tak kalah memusingkan, bagaimana menghadapi masalah di rumah maupun di kantor. Kesehatan mereka menjadi hal yang terpenting untuk tetap berdiri. Tak jarang mereka galau berat jika anak mereka sakit namun pekerjaan di kantor tidak bisa ditinggalkan. Ibu mana sih yang sanggup meninggalkan anak mereka saat sakit? Namun kembali lagi pada keputusan masing-masing mengapa memutuskan tetap menjadi ibu pekerja. Kebanyakan adalah faktor ekonomi yang menuntut. Meski uang bukan segalanya tapi segalanya memang butuh uang. Mereka ingin anak-anaknya hidup berkecukupan dan dapat membahagiakan keluarga. Tapi menjadi ibu pekerja bukan berarti bebas dari komentar usil juga loh. Mungkin masih ada keluarga yang konservatif sehingga berpikiran, “Tugas utama wanita itu ya di rumah. Urus suami dan anak-anak. Bukannya malah cari uang.” Meski demikian, ingatlah, apapun usaha halal yang telah dilakukan pasti akan bermuara kepada kebaikan. Dan ingat, meski rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, tetapi rezeki harus dijemput dan tidak datang sendiri.

Yep, apapun keputusan pastilah ada pro dan kontranya. Tapi kembali lagi ke diri masing-masing, apa tujuan utama kita sebelum mengambil keputusan besar, bagaimana konsekuensinya, dan bagaimana cara mengecilkan konflik. Menjadi ibu rumah tangga maupun ibu pekerja sama-sama pekerjaan mulia. Keduanya tidaklah mudah bahkan cenderung berat. Saya mengagumi keduanya meski saya tidak tahu akan menjadi apa kelak. Yang terpenting sekarang adalah mau menjadi apapun nantinya, saya hanya berharap dapat menjadi seorang istri sekaligus ibu yang dapat menjadi rumah sekaligus teman bertualang bagi keluarga saya kelak.

Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed. – Linda Wooten

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s