Are you worthy? Do I deserve?

Is he worthy enough to be waited for? Itu satu pertanyaan yang terus menggaung di kepalaku saat kau mengingatkan jika kau tak bisa di sisiku setiap waktu. Aku menjawab tak masalah kala itu. Karena kehadiranmu yang mendadak mencerahkan ruang gelapku menjadi alasan mengapa aku rela menunggu.

Tapi lambat laun, aku mulai mempertanyakan. Do I deserve to be kept in uncertain way by you? Pertanyaan yang mengusik ini terus menggelitik sampai pada titik itu. Saat akhirnya kita sama-sama menyerah, lalu melepas sesuatu yang tak pasti ini menjadi pasti. Ya, pasti hilang. Pasti berpisah. Pasti tidak ada yang kita.

Sakit? Buruk? Mungkin ada kata lain yang lebih pantas menggambarkannya selain itu. Namun hal ini berdampak lebih baik. Lebih jelas dan lebih pasti. Meski sama-sama merindu dalam diam yang jauh. Tak ada yang bisa menyambungkannya kembali.

Tapi yang aku mau, jika kau sepi atau rindu, ingatlah dahulu aku dan kamu pernah menjadi kita. Dan tak ada yang salah dengan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s