Golongan Semen

Satria mulai bercerita kepada Elli, sang siswa baru, mengenai kondisi para siswa di sekolah mereka yang ternyata terpecah dalam empat golongan. Golongan pertama adalah golongan para siswa populer. Golongan ini beranggotakan para siswa yang aktif pada organisasi sekolah, mulai dari kegiatan ekstrakurikuler sampai kegiatan OSIS. Mereka-mereka adalah pilar sekolah dari bakatnya masing-masing untuk mengikuti kejuaraan, mulai dari olahraga, seni, dan lainnya.

Golongan kedua adalah golongan para siswa jenius. Anggota golongan ini sudah dapat dipastikan adalah para penghuni kelas akselerasi dan para calon peserta olimpiade yang tersebar di penjuru kelas meski dengan habitat yang sangat minim. Mereka adalah senjata sekolah dari kejeniusan otaknya.

Sedangkan golongan ketiga adalah golongan para siswa eksklusif. Untuk anggota golongan ini Elli langsung tahu bagaimana kriterianya. “Harus tajir dan gaul! Iya kan?” Elli menjentikkan jari.

“Tuh bisa langsung tahu padahal baru sehari bergaul sama mereka.” sahut Satria. “Wah, apa lo itu calon golongan eksklusif ya?” Elli langsung memukul lengan Satria. “Aww!”

“Terus, golongan yang keempat apa?”

Satria terdiam sejenak. Dahinya mengerut seolah ia sedang berpikir keras. “Mungkin bakal ada sebentar lagi.” jawaban Satria malah membuat Elli ikut mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

“Maksudnya kita butuh golongan keempat alias pihak netral yang bisa nyatuin tiga golongan lainnya. Dan itu belum ada sampai sekarang.” Satria menjelaskan. “Ibaratnya kita itu sebuah bangunan yang terdiri dari lantai, dinding, dan atap. Nggak mungkin mereka berdiri sendiri untuk membentuk satu bangunan. Mereka butuh semen untuk merekatkan satu sama lain. Dan semen itulah yang masih belum ada sampai sekarang.”

Elli melipat kedua tangannya di dada, lalu matanya terpincing pada pemuda berkulit kecokelatan yang duduk di sebelahnya. “Analogi kamu pinter juga ya, Sat! Saya curiga kamu termasuk golongan jenius.”

Satria membetulkan duduknya. Kedua tangannya ikut terlipat di dada sembari melirik gadis mungil di sebelahnya. “Kalau gue golongan jenius dan lo golongan eksklusif tapi kita berdua bisa nyambung ngobrol kayak gini, berarti kita,”

“golongan semen!” mereka berdua pun kompak tertawa sehingga membuat penumpang lainnya ikut melirik. Namun keduanya masih fokus dengan hal yang mereka tertawakan dan mengabaikan, bahkan cenderung tak menyadari, satu kenyamanan yang perlahan tercipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s