Sisi Gelap Sang Bulan

Mengenal Luna bukan menjadi hal baru bagi Bumi. Bulan sudah berganti hingga 12 kali tapi Bumi merasa seolah baru segelintir hari mengenal gadis tersebut. Malam hari itu, tak ada senyum bahkan tawa menyenangkan dari seorang Luna. Air mata menjadi pengganti yang terus meleleh di pipinya. Rambut panjangnya berkibar diterpa angin yang dibiarkan mengacak-acaknya.

“Luna, kamu,” potong Bumi sesaat mata mereka bertumbukan.

“Berhenti!” Luna terisak sembari segera berdiri memunggungi Bumi. “Lebih baik kamu pergi sekarang.” ucapnya lagi. Suaranya bergetar namun dipaksa tegar.

“Aku hanya ingin memastikan kamu dalam keadaan tidak terlalu buruk.” Bumi masih bersikeras untuk bertanya lebih lanjut. Kakinya melangkah pelan menghampiri Luna yang masih memunggunginya.

“Bukan urusanmu! Ini bukan Luna yang kamu kenal.” dari jarak yang tidak jauh lagi, Bumi mendapati bahu Luna gemetaran.

“Oh ya?” celetuk Bumi cuek. “Luna yang aku kenal itu memang ceria, sering tersenyum, bahkan selalu bersemangat,” Bumi menatap punggung hingga rambut Luna yang masih berkibar tertiup angin. Gadis itu sepertinya sudah lebih tenang. Kaki Bumi tetap tak gentar makin mendekatinya. Perlahan, ditariknya lengan Luna, lalu tubuhnya berputar tepat ke hadapan Bumi. Wajah ceria yang selama ini Bumi selalu lihat, perlahan pudar oleh genangan air mata. Tak ada senyuman yang terbit. Yang ada hanyalah rengutan. “tapi tidak ada salahnya menunjukan sisi gelapmu bukan?”

Luna memberanikan diri menatap Bumi dalam titik terendahnya. Mata tulus itu masih ada, bahkan selalu ada meski Luna berada dalam kondisi apapun. “Maaf!” ia menyeka sisa air mata yang ada.

“Pengkhianatan memang selalu menyedihkan. Terutama jika dilakukan orang terdekat.” Bumi membenarkan rambut berantakan Luna, lalu kepalanya menengadah ke langit malam. Hamparan kanvas hitam tergelar dengan hiasan gemerlap bintang, lalu ditambah bulan yang terlambat muncul, membuat malam kembali sempurna. “Kamu tahu,” mata Bumi kembali bertengger pada sepasang bola mata berkilau di hadapannya. “bulan memiliki sisi gelap yang tidak pernah ditampakan pada bumi. Yang dipamerkan hanyalah maria, yang tampak indah jika terkena sinar matahari. Ia tidak ingin lembah, kawah ataupun dataran tinggi yang menurutnya buruk, terlihat oleh bumi.” Bumi menyampirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata Luna. “Meski kamu Luna tapi kamu bukan bulan. Dan tak ada yang salah jika sisi gelapmu tampak.” Luna menundukan kepala sejenak. “Dan kamu punya hak untuk menangis. Tapi pengkhianat itu tidak punya hak atas air mata kamu.” ia tahu jika sisi gelapnya akan tampak kembali. Bahunya berguncang, mencoba menahan tangis. Makin lama ia makin tidak bisa mengikat air matanya. Semua tumpah di hadapan Bumi. Kepala gadis itu menyender di salah satu sisi bahu Bumi. Kedua tangan Bumi pun dengan ragu merangkul Luna yang masih terguncang. Air mata jernih itu terasa hangat di kulit Bumi dan ia hanya bisa membiarkannya di sana.

Anggap saja bumi sedang menyaksikan bulan baru, di mana hanya sisi gelap yang tampak pada malam ini. Lalu jika bumi membiarkan, bulan baru tersebut akan berubah fase perlahan. Meninggalkan gelap menjadi setengah terang, lalu bermuara pada fase berikutnya yang paling indah. Bulan purnama. Dan bumi akan dapat menikmati sisi cemerlang sang bulan kembali.

Picture: Pinterest

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s