Karimunjawa 2017: See the line where sky met sea

FIRST DAY

Siap **T*M* Sebelum Mabuk

Saat saya tur ke Karjaw, banyak orang di sekitar saya yang bertanya, “Arrange sendiri atau pakai tur, Dik?”. Kalau dilihat dari cerita-cerita traveling saya sebelumnya, saya anti sama yang namanya ikutan tur. Tapi…ada tapinya. Kalau traveling ke kota-kota atau negara-negara, saya memang lebih memilih atur jadwal sendiri namun berbeda dengan yang namanya wisata alam. Karena saya mau menikmati yang namanya menyatu dengan alam (preett banget lu, Dik), saya pilih ikut paketan tur. Untuk rekomendasi tur yang saya ikuti, saya dapat dari Tia, mantan roommate saya, yang sudah pernah ke Karjaw. Saya dikasih nomor ponsel orang turnya, atur janji, kasih kelengkapan data, pembayaran, dan ketemuan deh. Untuk yang mau tau kontak orang tur dan berapa harganya, bisa japri ke saya. Haha.

Kami sepakat ikut tur Karjaw 3 hari 2 malam, dari tanggal 11 sampai 13 Agustus 2017. Sebulan sebelumnya, saya sudah kontak orang turnya, sekalian bayar DP. Untuk itinerary-nya, sabar ya, nanti saya jelasin satu per satu kok. Di hari pertama, kami akan bertemu dengan Mas Bayu, orang turnya, di Pelabuhan Kartini. Berhubung kapal menuju Karjaw berangkat pukul 9 pagi, jadi kami harus sudah di pelabuhan jam 8an. Namun karena kami nggak tahu jarak dan keadaan lalu lintas Jepara itu gimana di pagi hari (karena kebiasaan dihadapi macetnya Jakarta), akhirnya pukul 7, kami berangkat menuju pelabuhan. Untuk menuju pelabuhan, bisa ditempuh naik becak dengan range harga sekitar 10-20 ribu. Sebelum pukul setengah 8, kami sudah tiba manis di pelabuhan. Saya langsung kontak Mas Bayu dan tak lama kemudian, dia muncul. Ternyata Mas Bayu hanya bertugas memberikan tiket kapal saja kepada kami. Nanti pas sampai di Karjaw, ada temannya Mas Bayu yang akan menjemput kami. Keuntungan lainnya ikutan tur, kita nggak perlu susah payah antre beli tiket pas sampai pelabuhan, yang katanya sold out dalam sekejap mata. Berasa tiket konser Ed Sheeran ya. Selain itu, tiket yang kami pegang dipastikan memiliki nomor tempat duduk, jadi nggak perlu rebutan kursi deh. Karena oh karena, kapalnya menjual tiket berdiri loh. Iihh ogah banget deh saya berdiri nggak jelas di kapal lagi. Cukup pas naik ferry ke Lombok aja saya ngemper di dek kapal dan itu nggak banget.

Picture4

Kapal Express Bahari

Perjalanan dari Jepara ke Karjaw memakan waktu 2 jam lebih. Sebelum nyebrang, saya sudah siapkan senjata antimabuk. Terereng, yuhuuu obat antimabuk. Lumayan boo, digoncang-goncang selama 2 jam. Korban mabuk laut pun berjatuhan di kapal satu per satu. Tapi tidak dengan saya. Hoho. Sesampainya di Karjaw, saya langsung menghubungi Mas Ika, temannya Mas Bayu, sekaligus orang yang akan menemani kami dalam tur Karjaw. Dan ternyataaa, nggak ada sinyal loh, Ibu dan Bapak sekalian. Hanya E, tak ada H, apalagi 4G. T__T. Padahal provider saya itu punya jargon ‘Sinyal Kuat *****a*’. Sebenarnya Mas Bayu sudah memberitahu sebelumnya jika di Karjaw yang punya sinyal kece badai itu cuma provider yang kemarin website-nya dihack itu loh. Untung saja, Mba Yani pakai provider tersebut. Jadinya, kami bisa menghubungi Mas Ika.

Oh ya sesampainya di sana, kalian akan langsung dihadapkan oleh pemandangan laut yang beniiinggg banget. Bawaannya pengen cepet-cepet nyebur. Di pelabuhannya itu sendiri air lautnya bening, apalagi nanti pas snorkeling ya.

Picture5

Picture6

Tak lama kemudian, Mas Ika datang dan kita dibawa ke mobil untuk diantar ke homestay. Oh ya, paket tur yang saya ikuti itu paket yang punya range harga termurah, jadi akomodasinya hanya di homestay berkipas angin. Nggak apa-apa kok, kamarnya lumayan juga buat numpang tidur doang. Yang penting sih, kamar mandinya di dalam. Setelah beres-beres, istirahat sejenak, solat, dan dijamu makan siang, pukul 2 siang, Mas Ika menjemput kami untuk snorkeling. Untungnya lagi, homestay kami dekat dengan pelabuhan (betewe di Karjaw ada 2 pelabuhan, satu buat kapal ekspres, kapal yang tadi kita gunain dari Jepara, dan satu lagi buat kapal-kapal motor, moda transportasi menuju titik snorkeling). Nah homestay kita itu dekat dengan pelabuhan untuk kapal motor. Jadi, bisa jalan kaki deh.

Sesampainya di sana, sudah ada 3 cowok yang nunggu di dalam kapal. Saya pikir mereka yang punya kapal tapi rupanya turis juga kayak kita. Dan ternyata, kapal motor itu akan diisi oleh peserta turnya Mas Ika, yakni kami berempat, dan peserta dari tur lain, yakni 3 cowok itu yang sebut saja bernama Raka, Rochim, dan Udin (nama sebenarnya). Setelah pakai pelampung dan berdoa, kapal motor pun diberangkatkan. Setibanya di titik snorkeling, kami bersiap dengan mengencangkan pelampung dan memakai snorkel. Berhubung saya nggak suka pakai kaki katak, jadinya saya bertelanjang kaki saja. Tapi mesti hati-hati loh karena ada beberapa titik snorkeling yang banyak bulu babinya. Untuk tur ke laut, Mas Ika nggak ikut. Dia nitipin kita kepada dua mas-mas guide lain di kapal motor itu yang saya sendiri nggak tahu namanya. Hahaha.

Picture11

Geng Hari Pertama

Drama Snorkeling part 1

Awal mula terjun ke laut setelah 3 tahun lamanya, saya meski beradaptasi lagi nih. Saya lupa lagi cara pakai snorkel. Tak jarang, air laut pun saya minum. Hahaha. Setelah mulai terbiasa dengan air laut, mas-mas guidenya, memanggil kami untuk foto underwater. Wah, saya mulai stres berat. Pengalaman di Pulau Pari, rupanya susah juga foto underwater. Tapi pemotretan kali ini lebih ‘kejam’ daripada di Pulau Pari, di mana saya masih boleh pakai pelampung. Yep, saya wajib melepas pelampung. Penuh dengan drama dong! Secara saya nggak bisa berenang dan lupa caranya nyelam di laut. Dengan bantuan mas guide 1 yang ambil foto serta mas guide 2 yang ‘menenggelamkan’ lalu megangin saya dan entah berapa kali take dan berapa liter air laut saya minum, akhirnya pemotretan underwater saya sukses. Yehehehe, buangga deeh!

Picture8

Dibuang sayang

Picture7

Done!

Picture9

Senyum kemenangan

Pantai Ujung Gelam

Setelah snorkeling, kami dibawa ke Pantai Ujung Gelam untuk liat sunset. Katanya sih pantai ini one of best place to view sunset. Selain berpasir putih dan berair jernih, ditambah lagi banyak bule (alasan), saya berasa kayak di Gili Trawangan.

Picture10

Picture29

Alun-alun Karimunjawa

Menjelang maghrib, kami kembali ke penginapan untuk berbenah. Acara malam hari dijadwalkan bebas. Tips dari Mas Ika, kita bisa nongkrong di Alun-alun Karimunjawa yang pas malam hari jadi ramai kayak pasar malam. Di sepanjang pinggiran alun-alun, berjejer warung-warung yang menjual makanan, minuman, serta oleh-oleh. Saya sendiri sempat kaget juga karena pas sore tadi masih belum seramai sekarang.

3 thoughts on “Karimunjawa 2017: See the line where sky met sea

  1. firdauzagung says:

    Saya ke KJ 2 tahun yang lalu. Pengalaman paling buruk: gagal menyeberang dari pantai kartini karena ombak tinggi dan pengin muntah saat di kapal bahari express tapi tertahan, karena perut kosong. Pengalaman paling baik: berenang bareng ikan hiu dan menunggu sunset di tanjung gelam.

    Thanks for your story, jadi agak mengenang bacanya. 😊☺

    Like

    • Dika Halimatu Sadiah says:

      Iya Mas, saya juga sempat cemas karena ombak di sana nggak bisa diprediksi. Kata guide saya juga 2 minggu sebelum saya datang, kapal nggak bisa berlayar karena ombak tinggi padahal bukan musim hujan.
      Thanks for reading. Enjoy my story! Upcoming story is still under progress 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s