Cirebon, another best city for short escape

Hi, guys! (nyapanya ala-ala Awkarin) Akhirnya saya menyempatkan diri juga untuk buat satu tulisan lagi. Tentang jalan-jalan lagi sih. Hahaha. Jangan kesel dulu dong! Karena destinasi kali ini nggak jauh-jauh kok. Deket banget, malah sangat familiar bagi saya. Tak lain tak bukan adalah Cirebon, kampung halaman saya. Teretteret!!!

Saya baru sadar kalau belum pernah nulis sekalipun tentang Cirebon padahal kampung saya sendiri. Malah tempat lain udah ada yang pernah saya bahas sampai 2 kali. Maafff!

Kebetulan tur ke Cirebon kali ini agak spesial karena saya akan memandu 2 teman saya, yakni Anas dan Pipit yang katanya penasaran dengan Cirebon. Berangkat Jumat malam dan pulang Minggu sore dirasa cukup buat liburan singkat ke Cirebon. Okay, kita mulai turnya!

HOW TO GET THERE?

Banyak teman saya yang nanya, “Kalau ke Cirebon enaknya naik apa sih, Dik? Kira-kira berapa jam ya?”. Baiklah, akan saya jawab. Berhubung saya itu anker alias anak kereta, jadi transportasi ke Cirebon yang akan saya rekomendasikan adalah naik kereta api…tut…tut…tut. Kenapa saya rekomendasikan? Karena Cirebon memiliki lokasi yang strategis, yakni di perbatasan Jabar dan Jateng. Jadi, semua kereta dari Gambir pasti melewati Cirebon, kecuali KA Argo Parahyangan ya karena mengarah ke Bandung. Mau kereta ke Semarang, Yogyakarta, sampai Surabaya, pasti lewat Cirebon. Perjalanannya cuma memakan waktu 3 jam, kayak perjalanan dari Depok ke Sudirman naik angkot pas pagi-pagi hari kerja. Hahaha piss, lop, en gaul.

Selain itu, Cirebon memiliki kereta api khusus yang pemberhentian terakhirnya di Cirebon. Namanya Cirebon Ekspres alias Cirek. Sebenarnya ada juga kereta api Tegal Bahari. Bedanya tujuan akhir KA Tegal Bahari itu sampai Tegal dan jam pemberangkatannya disesuaikan dengan KA Cirek. Selebihnya sama kok, baik jenis keretanya hingga harga tiketnya. Untuk harga dan jam pemberangkatan, kalian bisa cek langsung di website PT KAI.

Selain naik kereta, kalian juga bisa naik kendaraan pribadi (mobil) karena sekarang sudah ada Tol Cipali (Cikopo-Palimanan), yang membuat perjalanan naik mobil lebih cepat dari sebelumnya. Tol yang diresmikan tahun 2015 lalu ini merupakan sambungan dari Tol Jakarta-Cikampek ke Tol Palimanan-Kanci. Nah, kalian nggak perlu digoyang-goyang di jalur Pantura lagi deh! Secara, jalur Pantura itu penuh jalanan berlubang. Jadiiii jika Anda siap bergoyang, lewatlah Pantura!

AKOMODASI

Pembangunan hotel di Cirebon bisa dikatakan tergolong pesat. Saya aja sampe kaget kalau balik kampung, ada aja hotel baru yang dibuka. Tapi jika kalian mau nyari hotel, saran saya sih cari hotelnya di Jalan Siliwangi, terutama bagi kalian yang menggunakan kereta api. Selain dekat dengan Stasiun Kejaksan Cirebon, Jalan Siliwangi itu merupakan jalanan utama alias pusat kota Cirebon. Ada Balai Kota, Alun-Alun Cirebon, dan deretan tempat kuliner di Jalan Siliwangi itu. Kalau kalian nggak dapet hotel di daerah Siliwangi, kalian bisa cari di Jalan Kartini, yang letaknya nggak jauh dari stasiun. Di Jalan Kartini juga ada landmark Cirebon, yakni Masjid At-Taqwa, yang menara masjidnya dibuka untuk umum. Jadi, kita bisa liat Cirebon dari ketinggian. Untuk jam buka dan harga tiket masuknya, saya nggak begitu tahu karena belum pernah nyoba juga ke sana. Lalu, pas saya, Anas, dan Pipit ke Cirebon nginep di mana? Ya di rumah orangtua saya dong! Masa di hotel. Sok tajir banget. Tapi maaf-maaf aja nih, rumah orangtua saya nggak terbuka buat umum, jadi lupakan niatan untuk numpang nginep di rumah orangtua saya. Bhaayy!

KULINER PART 1 – NASI JAMBLANG

Menu sarapan Sabtu pagi adalah nasi jamblang. Kebetulan di dekat rumah saya, ada warung nasi jamblang yang sudah buka sejak subuh. Bagi kalian yang nggak tahu apa itu nasi jamblang, saya jelasin nih. Jadi, nasi jamblang itu hampir sama kayak nasi rames. Ada nasi dan lauk-pauk yang beragam, mulai dari telur dadar, perkedel, tempe, tahu, semur daging, sate kentang, sambal, dan lainnya. Yang membedakan adalah cara pembungkusan dan porsi nasinya. Nasi jamblang dibungkus daun jati dan porsinya sedikit, kayak nasi kucing. Mengapa dibungkus daun jati? Karena daun jati dipercaya lebih bisa mengawetkan nasi dalam waktu lama ketimbang daun pisang.

Jadi, pas zaman penjajahan Belanda dulu, para pekerja paksa jika diberi nasi, pasti dibungkus oleh daun jati agar bisa tahan lama. Tau sendiri kan penjajah gimana kejamnya. Bisa-bisa mereka cuma diizinkan makan sehari sekali. Dan mengapa dinamakan nasi jamblang dan bukan nasi jati? Karena trendsetter-nya berasal dari daerah Jamblang, salah satu daerah di Kabupaten Cirebon.

Kalau kalian mau coba nasi jamblang, ada restoran nasi jamblang yang cukup terkenal di Cirebon. Namanya Warung Nasi Jamblang Mang Dul. Letaknya di pusat kota, yakni di Jalan Dr. Cipto, depan Grage Mall, mall paling beken di Cirebon.

GOA SUNYARAGI

Selesai sarapan, kami bersiap-siap untuk menuju destinasi pertama, yakni Taman Sari Goa Sunyaragi. Dari rumah saya, kami tinggal naik angkot sekali ke Goa Sunyaragi. Betewe eniwei baswei, terakhir kali saya ke Goa Sunyaragi itu pas zaman SMP. Itu pun karena ada tugas sekolah. Haha.

Sesampainya di Goa Sunyaragi, kami membeli tiket masuk terlebih dahulu. Cukup murah kok. Sekitar Rp 10.000 (seingat saya). Oh ya, kami juga ditawari apakah mau menggunakan jasa pemandu atau tidak. Berhubung saya dan Pipit memiliki tujuan utama untuk sekadar foto-foto, akhirnya kami bertiga memutuskan tidak menggunakan pemandu. Meski sebenarnya Anas kepingin banget pake pemandu. Haha maap ye Nas.

Seingat saya, dulu Goa Sunyaragi tidak seterawat sekarang. Ditambah lagi, sekarang banyak tempat di Goa Sunyaragi yang instagramable dan cucok deh buat narsis. Hoho.

Ngomong-ngomong tentang asal muasal Goa Sunyaragi, jadi konon katanya dulu, Goa Sunyaragi itu dibangun untuk tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon beserta keluarganya. Goa Sunyaragi memiliki 12 bagian, yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Oh ya, bagi kalian yang percaya mitos, di Goa Sunyaragi terdapat patung Perawan Sunti. Konon katanya lagi nih, bagi para gadis yang belum menikah dilarang menyentuh patung tersebut sebab bisa menghambat datangnya jodoh. Ya percaya nggak percaya sih tergantung masing-masing. Berhubung saya sih cari aman aja karena mau cepet-cepet nikah, jadi jauh-jauh deh dari patung itu. Haha.

TUR KERATON

Cirebon dikenal dengan kota keraton karena ada 3 keraton yang dimiliki Cirebon. Pertama, ada Keraton Kasepuhan. Keraton ini merupakan keraton tertua di Cirebon yang didirikan tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana. Kedua, ada Keraton Kanoman. Keraton ini didirikan tahun 1678. Sedangkan yang ketiga ada Keraton Kacirebonan yang dibangun tahun 1800. Sebenarnya ketiga keraton tersebut saling berhubungan namun karena ada masalah internal saat zaman penjajahan Belanda, alhasil ketiganya terpecah belah.

Kami mengunjungi Keraton Kasepuhan terlebih dahulu. Tiket masuknya cuma Rp 15.000 kok (kalau nggak salah, udah lupa soalnya haha). Sebenarnya saya mau ngaku dosa nih pas pembelian tiket. Petugas tiketnya sempet nanya, pelajar atau umum. Entah mengapa, kita bertiga kompak jawab ‘Pelajar’. Dan akhirnya kita bayar tiketnya untuk tarif pelajar. Sebenarnya kita nggak bohong-bohong banget sih! Pipit memang masih kuliah sedangkan saya dan Anas baru diwisuda tiga bulan lalu. Kartu mahasiswa kita masih aktif. Jadi, nggak bohong banget kan? Hahaha ngeyel. Btw, terakhir kali saya ke Keraton Kasepuhan itu kalau nggak salah pas SD dan bareng keluarga saya. Hahaha lebih lama lagi ya daripada ke Goa Sunyaragi.

Lingkungan Keraton Kasepuhan cukup luas dan beragam. Spot yang iconic di tempat ini tak lain tak bukan adalah dua patung macan putih.

Oh ya, bangunan yang iconic di luar keraton juga ada loh, yakni Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Selain merupakan masjid tertua di Cirebon, masjid ini juga memiliki keunikan tersendiri. Konon, kata dulu masjid ini memiliki kubah dan saat adzan shalat Subuh dikumandangkan, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sekarang memiliki dua kubah. Maka dari itu, sampai sekarang setiap shalat Jumat, Masjid Agung Sang Cipta Rasa menggelar yang namanya Adzan Pitu, yakni adzan yang dikumandangkan secara bersamaan oleh 7 orang muazin berseragam serba putih.

Jika kalian ke Cirebon saat bulan Maulid, kalian akan menemukan yang namanya Muludan di daerah Keraton Kanoman. Apaan sih Muludan? Muludan itu sebenarnya seperti pasar musiman. Banyak penjual yang menggelar lapak mereka. Mulai dari pakaian, makanan, perabotan rumah tangga, dan sebagainya. Uniknya, pasar ini hanya ada satu bulan dalam satu tahun, yakni pas bulan Maulid (dalam kalendar Islam). Nah, puncak dari Muludan ini adalah saat Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menggelar Upacara Panjang Jimat oleh keluarga ketiga keraton. Jangan khawatir, persiapan Upacara Panjang Jimat dapat dinikmati para warga kok karena iring-iringan rombongan keraton akan melintasi jalanan yang dipenuhi oleh para warga.

Sebenarnya setelah dari Keraton Kasepuhan, kami ingin melanjutkan ke Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan karena jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi berhubung udah capek berkeliling ditambah lagi cuaca Cirebon panas banget ya, jadi kita mau langsung ke tempat selanjutnya.

TAMAN ADE IRMA SURYANI

Destinasi terakhir hari ini adalah Taman Ade Irma atau popular name zaman now adalah Cirebon Waterland. Btw lagi nih, terakhir kali saya ke Taman Ade Irma tuh pas TK. Muahahaha, itu sih udah lupa bangeettt. Tapi masih ingat dikit-dikitlah. Pokoknya pas saya ke sana saat ini, saya sempat takjub juga loh. Beda banget pokoknya.

Cirebon Waterland sekarang dibangun bungalow untuk menginap para turis. Selain itu juga, terdapat restoran dengan berbentuk kapal laut. Tempatnya juga instagramable. Meski membayar Rp 30.000 untuk sekali masuk (tidak termasuk untuk berenang di Waterland-nya ya), tapi lumayan ya buat sekadar duduk-duduk sambil foto-foto.

Sayangnya, saat kami ke sana, keadaan air laut sedang surut, jadi bagian bawah bungalownya malah nggak tergenang air laut.

Oh ya, di dekat Cirebon Waterland ada 2 bangunan yang nggak kalah keren buat foto-foto. Yang pertama ada Gedung BAT (British American Tobacco). Dulunya gedung ini adalah pabrik rokok tapi sudah tidak beroperasi dan sekarang dijadikan objek wisata. Arsitekturnya Belanda banget. Ya agak-agak vintage. Jadi, kerenlah buat jadi objek foto-foto, apalagi buat foto prewed (aseekk galau).

Yang kedua ada Vihara Dewi Welas Asih. Ya kalau mampir sebentar buat sekali jepret bolehlah.

KULINER PART 2 – EMPAL GENTONG

Dari Cirebon Waterland, kami baru sadar kalau belum makan siang. Mana udah jam 4 sore pula. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajak Anas dan Pipit makan empal gentong. Kebetulan juga, ada warung empal gentong yang cukup populer. Cuma sekali naik angkot dari Cirebon Waterland. Namanya Empal Gentong Krucuk.

Belum ke Cirebon namanya kalau nggak nyobain empal gentong. Bahan dasar empal gentong itu daging sapi. Nah, empat gentong juga ada 2 macam, yakni ada yang pakai kuah santan dan ada yang pakai kuah bening asam. Meski isinya sih sama-sama daging sapi.

Kenapa dinamai empal gentong? Karena kuahnya direbus menggunakan gentong dan bukan panci. Kalau direbus pake panci, namanya empal panci. Krik-krik (garing banget lo, Dik!)

KULINER PART 3 – NASI LENGKO

Untuk menu sarapan di Minggu pagi adalah nasi lengko, makanan khas Cirebon lainnya. Nah, untuk nasi lengko ini, saya biasa membuatnya di rumah karena gampang banget.

Nasi lengko itu sendiri terdiri dari nasi putih, yang ditaburi tempe, tahu, mentimun yang sudah dipotong dadu, lalu diberi toge, daun kucai, dan terakhir disiram sambal kacang dan kecap. Akan lebih nikmat, diaduk terlebih dahulu sebelum dimakan karena rasa pedas, manis, dan gurih akan tercampur dalam sekali lahap. Dan jika mau lebih greges, saya lebih suka menggunakan kerupuk putih jika makan nasi lengko. (berasa kayak lagi endors nasi lengko deh!)

Untuk warung nasi lengko yang terkenal di Cirebon sendiri saya nggak begitu tau. Karena menurut saya, nasi lengko di mana pun enak rasanya. Namanya juga pecinta kecap, susah sih! Hahaha. Tapi menurut Mbah Google sih, ada Warung Nasi Lengko H. Barno di daerah Pagongan. Cukup punya rating tinggi.

TOKO BATIK TRUSMI

Bicara soal batik, Cirebon memang dikenal dengan batik khasnya, yakni mega mendung. Banyak teman saya yang nitip oleh-oleh batik kalau lagi pulang kampung. Meski nggak pernah saya beliin karena males jalannya. Hahaha.

Hari terakhir memandu Anas dan Pipit, orangtua saya berbaik hati mengantarkan kami belanja batik langsung di pusatnya, yaitu di daerah Trusmi. Nah, di situ ada yang namanya Toko Batik Trusmi, yang menjual berbagai macam batik. Mau dalam bentuk kain atau yang sudah berbentuk baju, dua-duanya ada. Mau yang murah atau yang mahal juga ada. Lengkap deh! Saya aja baru tau ada toko batik kayak begini. Hoho.

OLEH-OLEH KHAS CIREBON

Naahh, akan sangat tidak sopan kalau jalan-jalan tapi nggak beli oleh-oleh. Lantas, oleh-oleh khas Cirebon apa aja, Dik? Banyak banget! Ada yang namanya gapit, emping, kerupuk udang, kerupuk mlarat, sampai terasi udang. Selain camilan, ada juga namanya sirup Tjampolay. Sebenarnya sirup itu udah dipasarin di Jakarta sih.

Kira-kira, beli oleh-oleh Cirebon di mana ya? Jika kalian yang nginep di daerah Siliwangi, berbahagialah karena banyak deretan toko oleh-oleh khas Cirebon di Jalan Siliwangi. Kalau saya sih biasanya belanja di Pasar Pagi. Letaknya di Jalan Siliwangi juga.

KULINER PART 4 – MIE KOCLOK

Sebelum pulang, kami diajak mencicipi kuliner khas Cirebon lainnya, yaitu mie koclok. Kebetulan warung mie koclok yang kami sambangi dekat dari rumah. Namanya Mie Koclok Jatimerta.

Btw mie koclok apaan sih? Mie koclok ini terbuat dari mie basah yang disiram kuah putih kental yang terbuat dari santan. Lalu sebagai topping-nya ada irisan kol, toge, daging ayam, telur rebus dan sentuhan terakhir ditaburi bawang goreng dan daun bawang. Akan lebih enak lagi jika kalian menyantapnya dengan kerupuk kulit atau emping. Lezatosss.

Selain Mie Koclok Jatimerta, ada satu warung mie koclok lagi yang terkenal di Cirebon. Katanya sih resepnya nggak berubah dari zaman baheula dan sudah turun ke generasi berikutnya. Namanya Mie Koclok Panjunan. Btw pas nulis artikel ini, tiba-tiba saya ngidam mie koclok. Hayooo tanggung jawab kaliaaan!! Laahhh.

Sebagai Inces Cirebon, saya sangat merekomendasikan kota saya ini untuk dijadikan your runaway trip. Cukup 2 hari 1 malam atau mau PP juga bisa. Oh ya, untuk transportasi di Cirebon, kalian nggak usah khawatir. Sekarang udah ada ojol alias ojek online. Hoho. Okee, sekian cerita dari sang inces. See you in another way!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s