Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu (book review)

Novel Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu karya Rio Haminoto tak sengaja saya temukan saat mencari buku tentang sejarah Majapahit. Tema yang ditawarkan memang tak biasa, fiksi sejarah tapi berbalut non fiksi. Alur ceritanya pun dibuat maju-mundur. Serta kedua tokoh utamanya juga berbeda kewarganegaraan. Ada Raphael (Rafa) Harijono, pria asli Indonesia, yang hidup di abad ke-21 dan Picaro Donevante, seorang pemuda asal Florence, Italia, yang hidup di abad ke-14. Persekutuan Sang Waktu dimulai dari Rafa yang sangat menggemari artefak, lalu mampu menyeret saya kembali pada abad ke-14 untuk mengikuti kisah Picaro Donevante yang berencana melakukan perjalanan ke Timur, yakni Benua Asia. Dengan latar belakang tokoh utama yang merupakan bukan orang pribumi, di situ saya makin penasaran, bagaimana novel ini akan menceritakan mengenai Nusantara dan Majapahit. Dan rupanya, Picaro akan menjadi salah satu orang terdekat Gajah Mada sehingga ia akan mengikuti kemana Gajah Mada pergi.

Novel ini makin membuat saya sadar betapa hebatnya Kerajaan Majapahit dulu, bagaimana kerennya Gajah Mada, seorang patih Majapahit yang mengantarkan kerajaan tersebut pada puncak kejayaan, bagaimana komitmennya Gajah Mada pada puasa dan sumpah yang digenggamnya dalam menyatukan Nusantara, bagaimana ambisinya itu malah mengakibatkan Perang Bubat yang membuatnya terjatuh, dan bagaimana hubungan menyentuh antara Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

Selain kisah fiksi tentang Rafa dan Picaro Donevante yang ternyata memiliki nasib sama mengenai asmara meski hidup dalam waktu yang berbeda, yaitu hanya bisa mencintai tanpa memiliki, saya juga kepincut dengan kisah asmara Hayam Wuruk yang agak mirip dengan Rafa dan Picaro namun berujung tragis. Hayam Wuruk mencintai Dyah Pitaloka, putri dari Kerajaan Sunda, dan berencana menikahinya namun gadis tersebut memilih bunuh diri dalam Perang Bubat. Akibatnya, Hayam Wuruk begitu marah pada Gajah Mada dan hal ini menjadi awal turunnya karier Gajah Mada sebagai patih sehingga ia memilih untuk mengasingkan diri. Meski lambat laun, Hayam Wuruk tahu jika Majapahit benar-benar butuh seorang Gajah Mada. Akibat lainnya juga, karena Perang Bubat ini menjadi awal mitos orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa. Hmmm! Di sini saya bisa ambil kesimpulan betapa besarnya jiwa Hayam Wuruk yang saat itu sudah menjadi Raja Majapahit. Dan sebenarnya saya juga agak kesal dengan ambisi sepihak Gajah Mada sehingga mengakibatkan Perang Bubat. Intinya, sebagaimana sempurnanya kerja keras Gajah Mada dalam menyatukan nusantara tapi ia bisa berbuat kesalahan juga. Nobody’s perfect.

Saya pikir novel ini akan membosankan karena menceritakan tentang sejarah. Namun di luar ekspektasi, dengan pemaparan yang jelas, rangkaian kata yang cemerlang, serta bahasa yang Rio sampaikan tidaklah rumit sehingga saya cepat paham mengenai detail tempat, waktu, dan beberapa karakter yang berganti.

Sejak kecil aku sudah dibekali dengan cita-cita untuk menyatukan seluruh gugus pulau bagai menata padang rumput yang datar. Darah leluhurku memberiku dasar kekuatan para dewa dan doa orangtua, serta perlindungan Sang Penguasa Belahan Bumi Bagian Timur telah menuntunku menjadi tampil bagai pemimpin yang sesungguhnya bagi Majapahit. Sebuah negeri yang membesarkan dan mengasuhku. Negeri yang menghidupkan jiwaku. (Gajah Mada, hal. 339)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s